RADARSUMEDANG.id, BUAHDUA – Lembaga Adat Pagerjati (Pasukan Gerakan Jaga Tradisi) Dusun Cikeresek Desa Sekarwangi Kecamatan Buahdua mengaku resah dengan mencuatnya kembali rencana proyek panas bumi atau Geothermal.
Salah seorang perwakilan Lembaga Adat Pagerjati, Nana Juhana, menegaskan pihaknya tetap menolak adanya rencana proyek panas bumi di kawasan kaki Gunung Tampomas tersenut.
Ia mengatakan, lingkungannya yang asri di kaki Gunung Tampomas diharap dapat terus terjaga dan terhindar dari hal negatif. Dengan mencuatnya kembali rencana Geothermal atau proyek panas bumi, yang dinilai masyarakat dapat berdampak pada keasrian lingkungan.
“Dengan geografis dan keasrian alam di sini seperti mata air dingin atau panas, kita sangat tidak berharap dengan rencana Geothermal yang sudah meresahkan dari beberapa tahun kebelakang,” ujar Nana, saat ritual Ngaruat Jagat Ngajaga Lembur, belum lama ini.
Tokoh masyarakat lainnya dari Desa Cilangkap, Eme menjelaskan, sejak Tahun 2009, masyarakat sekitar tetap pada pendiriannya untuk menolak rencana pemerintah dalam membangun Geothermal di kaki Gunung Tampomas.
“Sikap masyarakat itu tetap menolak. Ketentraman sedang berjalan di daerah sini. Dan ini sudah ada dampak sosial,” tuturnya.
Eme berharap kepada pemerintah, agar menghentikan rencana Geothermal dan mengalihkannya pada pelestarian gunung.
“Terutama kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, untuk dihentikan dan diganti dengan pelestarian gunung yang memang harus asri,” ucapnya.
Selain menjadi agenda rutin memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, kegiatan Ngaruat Jagat Ngajaga Lembur ditujukan untuk menjaga tradisi dan budaya yang ada. Ritual tersebut dilaksanakan agar dapat menjaga ketentraman dan menyejahterakan masyarakat.
“Ya istilahnya ngariksa atau ngaruat lembur, untuk melestarikan juga tradisi dan kebudayaan. Kamk berharap kegiatan ini dapat menentramkan dan menyejahterakan masyarakat,” katanya.
Seperti dikutip dari laman https://www.esdm.go.id, berdasarkan hasil studi Badan Geologi, wilayah Gunung Tampomas memiliki sumber daya panas bumi sebesar100 Mega Watt (MW) dengan rencana pengembangan sebesar 55 MW.
Pelaksanaan program WKP Tampomas sendiri dilakukan pada tahun 2021 dan 2022 meliputi kegiatan sosialiasai, koordinasi hingga pengurusan perizinan seperti Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) – Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL), Surat Izin Pengusahaan Air Tanah (SIPA), izin lokasi dan sebagainya.
Panas bumi diharapkan dapat berperan dengan menyumbangkan 7.241,5 MW kapasitas terpasang di tahun 2025. Saat ini, jumlah kapasitas terpasang baru 2.130,7 dari 4.793 MW dimana Jawa Barat menyumbang paling besar sebesar 1.193,8 MW. (gun)







