RADARSUMEDANG.id, KOTA – Pertunjukan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih akhirnya dipentaskan di kota kelahiran Miss Tjitjih yaitu Sumedang.
Sandiwara yang dipentaskan di Graha Asia Plaza, Sabtu (28/10) malam itu berhasil menyedot mata para penonton yang didominasi warga Sumedang. Terlebih pertunjukan seni Miss Tjitjih digelar secara cuma-cuma alias gratis.
Pj Bupati Sumedang, Herman Suryatman mengatakan, Sandiwara Miss Tjitjih mengandung makna tontonan dan tuntunan.
“Tentu dalam sandiwara ini ada velue ada nilai-nilai yang bisa diambil. Yang bisa meningkatkan karakter dalam kehidupan, dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bisa jauh lebih baik,” kata Herman.
Herman menyebutkan, manfaat dari pertunjukan Miss Tjitjih ini semakin mengukuhkan Sumedang sebagai kabupaten pariwisata.
“Jadi setiap tempat harus jadi destinasi dan setiap orang di Sumedang ini harus menjadi pemandu wisata. Untuk mewujudkan itu salah satu hal yaitu atraksi. Hanya dengan atraksi Kabupaten Sumedang bisa menjadi unggulan Jawa Barat bahkan nasional,” ujarnya.
Herman menyebutkan, Sandiwara Miss Tjitjih merupakan aktualisasi konkrit dari sebuah atraksi. Mengingat ditonton banyak orang bukan hanya dari Sumedang saja penontonnya ada juga dari kabupaten tetangga.
Herman berharap, kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta dengan Pemkab Sumedang bisa terus ditingkatkan dan setiap saat pertunjukan ini digelar di Jakarta.
Senada, Anggota DPR RI, Mayjen TNI (p) TB Hasanuddin hadir dalam pementasan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih menyebutkan, di tengah gempuran budaya asing, antusias masyarakat Sumedang sangat tinggi terhadap pementasan seni lokal.
“Ini sungguh menggembirakan terhadap pelestarian seni dan budaya tradisional. Saya terharu melihat membludaknya penonton Sandiwara Miss Tjitjih,” ucap TB Hasanuddin.
Sebagai Ketua Yayasan Sandiwara Miss Tjitjih, Mayjen TNI (P) TB. Hasanuddin menyambut baik roadshow Sandiwara Miss Tjitjih yang merupakan kolaborasi Disbudpar Provinsi DKI dengan Disbudparpora Kabupaten Sumedang.
“Ini bukti kecintaan saya terhadap seni dan budaya Sunda. Sebagai bentuk pelestarian seni dan budaya itu, saya coba membantu jika ada lingkung seni yang memang membutuhkan alat kesenian,” tuturnya.
Lebih lanjut Hasanuddin, Sandiwara Miss Tjitjih menjadi salah satu sandiwara yang usianya cukup tua. Karena telah dipentaskan sejak zaman kolonial, tepatnya sejak tahun 1930-an.
Pasalnya nama Miss Tjitjih diambil dari nama seorang seniman yang tinggal di sekitar pendopo Kabupaten Sumedang yang juga pejuang pada masa pergerakan nasional dahulu.
Tjitjih lahir di Sumedang di tahun 1908 dan memulai karir dalam sandiwara atau tonil sejak tahun 1926 atau 2 tahun sebelumnya lahirnya sumpah pemuda.
“Miss Tjitjih ini sosok luar biasa, perempuan yang terlahir dan besar di Sumedang, Ia mampu menguasai 3 seni sekaligus, yaitu Seni Suara, Seni Tari dan seni akting,” ungkap TB Hasanuddin.
Hasanuddin juga menceritakan keterlibatannya dengan pembangunan Gedung Kesenian dan Sandiwara Miss Tjitjih yang berada di Jakarta.
“Sekitar tahun 2000-an kami mengajukan kepada pihak Pemprov DKI untuk dibangunkan Gedung Kesenian, khususnya untuk Sandiwara, dengan kapasitas 250 orang dan ber-AC,” jelas TB Hasanuddin.
Sebagai informasi, sandiwara ini digelar untuk mengapresiasi salah satu tokoh Sumedang yang bernama Miss Tjitjih yang berkiprah di Batavia pada waktu itu. Miss Tjitjih adalah sri panggung sandiwara. Dibentuk tahun 1928 dan sekitar 1940 Miss Tjitjih menjadi idolanya sekaligus merayakan grup Miss Tjitjih yang sudah berusia hampir 100 tahun.
Pertunjukan Sandiwara Miss Tjitjih di Asia Plaza menampilkan kisah komedi dan horor ‘Acih Mati Beranak di Mangga Dua’.
Mengisahkan seorang pemuda pekerja keras dan jujur bernama Tisna yang berniat untuk membahagiakan kekasihnya, Acih. Ia kemudian memberikan Acih baju baru yang ternyata adalah baju curian.
Beruntung sang pemilik toko tidak memenjarakannya. Setelah menikah, keduanya pun pindah ke Jakarta dan menempati sebuah rumah yang ternyata angker. (jim)







