RADARSUMEDANG.ID, KOTA — Pj Bupati Sumedang Herman Suryatman mengatakan bahwa Litbang BMKG telah memasang alat MT (magneto telurik) di belakang lahan kosong kawasan pusat pemerintahan Sumedang (PPS).
Pada kesempatan itu, Herman mengatakan pemasangan alat MT digunakan untuk mendeteksi getaran gempa.
“Ada alat yang dipasang khusus di Kabupaten Sumedang (dua unit alat) yang mana sejauh ini sudah 16 kali gempa berdasarkan alat yang ada di Jabar secara existing. Bahkan sebelum akhir status tanggap darurat berakhir kita juga pasang alat portabel di kabupaten Sumedang,” kata Herman kepada Radar Sumedang di gedung DPRD Sumedang, Selasa (9/1/2024).
Adapun hasilnya ternyata jumlah gempa di kabupaten Sumedang ada 20 kali gempa. “Akan tetapi frekuensi atau magnitudo mulai berkurang, kedalamannya juga semakin dalam dan yang terkahir magnitudo di angka 1 sehingga tidak terasa. Jadi kesimpulannya berdasarkan analisis BMKG karena frekuensinya makin jarang dan pusatnya makin dalam kemudian magnitudo makin kecil disimpulkan dalam koridor aman,” ujarnya.
Senada Kepala Pelaksana BPBD Sumedang, Atang Sutarno menyebutkan, alat pendeteksi gempa tersebut telah dipasang oleh Litbang BMKG di sembilan titik, diantaranya di wilayah Kecamatan Sumedang Utara, Sumedang Selatan, Rancakalong, Cimalaka, Cimanggung, Tanjungsari, Sukasari, Tomo, dan Ganeas.
“Alat ini digunakan dalam upaya memantau pergerakan gempa, supaya potensi gempa di Sumedang dapat lebih cepat diketahui. Dengan begitu, upaya pencegahan dan penanganan resiko bencana gempa di wilayah Kabupaten Sumedang, bisa dilakukan lebih cepat,” sebut Atang.
Meski demikian ditegaskan Atang alat itu bukan untuk mencegah terjadinya gempa, akan tetapi hanya untuk mendeteksi saja.
“Seandainya nanti ada pergerakan gempa, maka alat tersebut akan memberikan signal. Setelah itu, BMKG akan langsung melakukan pemantauan melalui udara dengan menggunakan drone,” imbuh Atang.
Dengan adanya signal peringatan dari alat pendeteksi gempa ini, sambung Atang. Maka Pemkab Sumedang dalam hal ini BPBD, tentu akan lebih mudah dalam melakukan upaya pencegahan dini.
Bahkan selain yang telah dipasang oleh BMKG, kata Atang, alat pendeteksi gempa ini ada juga yang dipasang oleh lembaga pendidikan, seperti UKI dan UI. Kedua perguruan tinggi ini, sekarang sedang melakukan penelitian gempa dengan memasang sedikitnya 26 unit alat pendeteksi gempa.
“Alat pendeteksi gempa yang dipasang BMKG ada 9 unit, dan yang dipasang oleh pihak perguruan tinggi yaitu UKI dan UI ada 26 unit. Jadi alat MT yang terpasang di Sumedang saat ini totalnya ada 35 unit,” terangnya.
Dengan demikian pihaknya kembali menghimbau, kendati saat ini masa tanggap darurat bencana gempa bumi di Sumedang sudah berakhir. Namun masyarakat harus tetap meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana.
“Saat ini, gempa di Sumedang sudah mulai melandai. Warga diimbau untuk tetap tenang dan waspada. Karena selain potensi gempa, kita juga harus tetap mewaspadai potensi bencana banjir dan longsor di musim hujan,” jelas Atang. (jim)






