Kasus DBD di Sumedang Baru Awal Tahun Sudah 638 Kasus, Dua Orang Meninggal Dunia

oleh
Kepala Subkor Pencegahan pengendalian penyakit menular dan penyakit tidak menular (P2PM PTM), H Aan Sugandi.

RADARSUMEDANG.id, KOTA — Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang mewanti-wanti kepada seluruh masyarakat agar mewaspadai penyakit DBD.

Pasalnya berdasarkan catatan dari Dinas Kesehatan, awal tahun ini (sampai Februari) Dinkes sudah mencatat  sekitar 638 lebih kasus DBD yang terjadi di beberapa puskesmas di wilayah Kabupaten Sumedang.

Puskesmas Conggeang dilaporkan menjadi penyumbang kasus DBD terbanyak yaitu sebanyak 79 kasus selama 2 bulan di awal tahun 2024. Bahkan dua orang dinyatakan meninggal dunia yang merupakan pasangan suami istri.

Karenanya, Dinkes melakukan upaya-upaya preventif dengan cara fogging kepada kawasan yang terdeteksi ditemukan kasus DBD melalui aparatur juga langsung dari masyarakat.

“Perlu diketahui memang fogging itu merupakan tindak lanjut akhir ketika kita sudah melakukan upaya-upaya PSN (pemberantasan sarang nyamuk). Disisi lain masih ada anggapan bahwa penyemprotan cukup sebatas di pekarangan rumah saja. Padahal karakteristik si nyamuk Aedes aegypti itu senang tempat-tempat yang lembab seperti kamar, kamar mandi, gantungan baju sehingga kalau tidak ke dalam rumah sebetulnya itu tidak efektif,” kata Kepala Subkor P2PM PTM pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Aan Sugandi saat dikonfirmasi Radar Sumedang di ruang kerjanya, Senin (4/3/2024).

Aan menerangkan bahwa upaya fogging hanya efektif membunuh nyamuk dewasa (yang sudah mampu terbang). Sedangkan untuk telur-telur atau jentik nyamuk tidak bisa mati oleh penyemprotan fogging. Mengingat masih hidup dalam media telur sehingga fogging tanpa PSN merupakan upaya yang mubazir.

“Sejatinya apabila fogging dilakukan sebelum PSN, maka tempat berkembang biak nyamuk akan musnah sehingga kalau seperti itu insya Allah lingkungan akan terbebas dari nyamuk penyebab DBD,” terang Aan.

Dengan demikian, manakala seseorang didiagnosis DBD. Maka haria dilakukan pendataan epidemiologi yang dimulai dari tim puskesmas (kesling dan surveilans).

“Langkah ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana penyebab DBD dalam radius 100 meter dari  tempat yang terdiagnosa DBD, apakah ada jentik nyamuk atau tidak. Masing-masing rumah di sekitar akan dilihat baik itu penampungan air dan lain sebagainya. Kalau kita menemukan misalnya 20 rumah kemudian 4 rumah ditemukan jentik nyamuk. maka harus dilakukan fogging di lingkungan itu,” katanya.

Sementara untuk per tahun 2023 kasus DBD mencapai angka 1079 kasus, dengan kasus tertinggi tercatat di Puskesmas Sumedang Selatan 105 kasus DBD.

“Tahun 2023, ada tiga orang meninggal. Satu yang ditangani oleh Puskesmas Jatinangor dan diablagi di Jatinunggal,” jelas Aan. (jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.