RADARSUMEDANG.id, KOTA – Sebanyak 429 warga yang menjadi korban angin puting beliung di Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung mulai menerima dana bantuan stimulan tahap 1 yang bersumber dari APBD Kabupaten Sumedang tahun 2024. Penyaluran bantuan dilakukan Bank Sumedang serta BPBD Sumedang sejak Rabu, 13 Maret 2024.
Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Perkimtan) Sumedang, Andri Indra Widianto mengatakan, jumlah 429 yang menerima dana stimulan tahap 1 terdiri dari korban di Kecamatan Jatinangor sebanyak 187 dan korban di Kecamatan Cimanggung sebanyak 242 orang.
“Alhamdulillah, bantuan stimulan sudah mulai disalurkan kepada korban terdampak, yang sebelumnya kami lakukan asesmen dan dilaporkan kepada Pj Bupati, sehingga turunlah Keputusan Bupati Sumedang nomor 255 tahun 2024 tentang penetapan penerima bantuan stimulan tahap 1 korban bencana angin puting beliung di Kecamatan Cimanggung dan Jatinangor,” ujar Andri saat ditemui Radar Sumedang diruangannya. Kamis (15/3).
Andri mengaku, saat melakukan asesmen atau pendataan, pihaknya mengaku dihadapkan berbagai kendala salah satunya kurang mendapat respon positif dari warga setempat.
“Kami tidak tahu siapa saja warga yang terkena dampak, karena saat melakukan pendataan kadang tidak didampingi warga atau aparat, sehingga mohon maaf apabila data tidak sesuai,” ujarnya.
Meski demikian, kata Andri, ada juga warga yang welcome terhadap kehadirannya, didampingi RT dan RW diantar melakukan asesmen melihat rumah-rumah warga yang rusak, sehingga proses pendataan sehari beres meski mencapai ratusan rumah.
“Karena dikejar waktu, kami menurunkan 4 team. Meski hujan dan capek namun demi kemanusiaan kami terus merampungkan pendataan, dengan menyesuaikan kondisi kendala dilapangan,” tambahnya.
Andri menjelaskan, rumah warga yang mengalami rusak berat, kebanyakan atap rumah dan genteng metalnya dari baja ringan, berbeda dengan konstruksi genteng tanah rusaknya tidak terlalu parah.
“Di Rw 08 Desa Sukadana Kecamatan Cimanggung, konstruksi semuanya baja ringan, atap baja ringan, pakai genteng metal, dindingnya menggunakan GRC ditempel di kontruksi baja ringan, semua tersapu, terangkat dengan dindingnya,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena dilapangan setelah dilakukan assesmen, mereka mengira bahwa akan langsung mendapat bantuan, sehingga tidak sedikit dari korban yang langsung meminta bantuan kepada tim.
“Kendala yang belum tercover tahap satu karena proses administrasi kependudukannya belum lengkap namun kita konfirmasi ke Disdukcapil, ada juga saat kita melakukan asesmen pemilik rumah tidak ada,” ucapnya.
Ia berharap, bantuan tahap dua bisa secepatnya terealisasi, meski dengan anggaran Pemda terbatas, namun masih bisa memperhatikan dana stimulan bagi korban bencana.
“Memang kalau tidak ada kepuasan dari masyarakat itu wajar, kami tidak mengklaim bahwa hasil pendataan itu sempurna, kita masih memiliki kekurangan dari instrumen data termasuk kategori kriteria. Tetapi bagaimana caranya agar masyarakat terdampak mendapatkan bantuan stimulan. Mudah-mudahan kedepannya bisa lebih baik dan lebih siap menghadapi bencana,” tandasnya. (tha)





