RADARSUMEDANG.ID, KOTA – Pengamat kebijakan publik yang juga Direktur Komite Nasional Pengawas Kebijakan Publik (KNPKP),Toni S Liman mengatakan, berpacunya waktu yang mendekati tahapan pemilihan kepala daerah, termasuk di Agustus 2024 ini mulai memperlihatkan gairah dan suasana politik.
Namun, pria yang akrab disapa Liman ini justru melihat, bahwa saat ini agresivitas Dony Ahmad Munir (DAM) secara massif sosialisasi ke akar rumput, makin melambungkan namanya di beberapa survey terakhir.
Menurutnya, bacabup Dony tetap yang tertinggi potensi keterpilihannya sebagai Bupati Sumedang.
Hal itu kata Liman cukup beralasan, mengingat terdapat beberapa faktor yang dari segi kebijakan yang justru menguntungkan sosok Dony Ahmad Munir.
Pertama, kepastian pencalonan sudah didapatkan secara resmi oleh partainya, pun demikian beberapa partai pengusung tinggal menunggu deklarasi saja.
Kedua, Dony Ahmad Munir masih dianggap incumbent, yang sering ikut dalam pemilihan meskipun tidak dalam paket yang sama. Belum lagi incumbent dianggap publik sebagai calon yang lebih diuntungkan dibandingkan kandidat lain.
“Artinya, meski maju kembali dengan calon wakil kepala daerah yang berbeda untuk merebut jabatan kembali. Masyarakat melihat kinerja incumbent yang tingkat kepuasannya di atas 70 persen. Yang mana rata-rata pilkada di beberapa daerah di Indonesia mayoritas terpilih kembali,” kata Liman kepada Radar Sumedang, Senin (12/8/2024).
Ketiga sambung Liman, sosok Dony Ahmad Munir disebut-sebut mempunyai akses langsung dalam perumusan kebijakan lokal, dan penganggaran daerah sehingga sangat mengetahui apa yang menjadi kebutuhan mendasar masyarakat Kabupaten Sumedang.
“Yang keempat sebagai incumbent, Dony Ahmad Munir telah membangun relasi politik lebih awal ke berbagai organisasi maupun masyarakat selama berkuasa. Dari situ publik juga melihatnya sebagai seorang politisi murni yang tidak pernah lompat partai sehingga jika diakumulasi, incumbent memiliki investasi politik lebih unggul dibandingkan kandidat lainnya,” ujarnya.
Dengan demikian sangatlah wajar, jika dari keseluruhan koresponden menjatuhkan pilihannya berdasarkan latar belakang figure, kedekatan dan hubungan.
Sementara preferensi pemilih, menentukan dari berbagai elemen. Dony Ahmad Munir dikenal dari elemen pesantren kemudian partai politik hingga ter-branding sebagai tokoh muda millennial yang agamis.
Namun demikian Liman mengingatkan bahwa survey-survey yang bermunculan dinilai masih dinamis. Terlebih koresponden bisa merubah pilihannya lantaran belum masuk masa kampanye dan tahapan pilkada.
“Jadi memang semuanya masih dinamis, mengingat hari ini pemilih masih mengukur kandidat berdasarkan media sosial. Tim sukses maupun tim kreatifnya harus benar-benar bekerja dengan penuh pengamatan dinamika yang terjadi di masyarakat,” pungkas Liman. (jim)






