RADARSUMEDANG.ID, KOTA – Jelang akhir tahun 2024, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang telah merilis data angka konvergensi stunting bagi balita.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, dr. Aceng Solahuddin mengatakan, presentase angka stunting balita 0-59 bulan di Kabupaten Sumedang per tanggal 9 September 2024, menunjukkan penurunan menjadi 7,32 % dari tahun sebelumnya 7,89 %.
Berdasarkan data Real Time EPPGBM, sejauh ini prosentase stunting balita 0-59 bulan tahun ke tahun dari tahun 2020 di angka 12,05 %, 10,99 (2021), 8,27 (2022).
Adapun untuk prosentase angka stunting balita 0-23 bulan pada program menuju new zero stunting atau tidak ada lagi stunting baru di tahun 2024 juga menunjukkan penurunan di angka 5,00 % dari prosentase tahun sebelumnya di angka 5,51 % atau turun 0,51 persen.
“Terdapat 97 desa/kelurahan (35%) yang menunjukan peningkatan persentase stunting balita 0-23 bulan (stunting baru 1000 hari pertama kelahiran),” kata dr. Aceng kepada sejumlah awak media di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, belum lama ini.
Adapun kata dr. Aceng, pada trend 2023-2024 sejauh ini hanya Kecamatan Sumedang Utara yang menunjukkan peningkatan jumlah balita diukur.
Selain itu, ada juga 5 kecamatan seperti Darmaraja, Situraja, Cimanggung, Jatigede dan Tomo yang telah menunjukkan tren penurunan stunting yang baik.
“Jadi kalau kita lihat, penurunan terbesar persentase stunting ditunjukkan pada Kecamatan Tanjungmedar. Sedangkan peningkatan persentase stunting terbesar terlihat di Kecamatan Cimanggung. Sementara persentase stunting tertinggi terdapat pada Kecamatan Jatigede,” ujarnya.
Lebih spesifiknya lagi lanjut dr. Aceng, saat ini trend 2023-2024 menunjukkan terdapat 125 desa yang menunjukkan peningkatan persentase stunting.
“Sebagian besar desa tersebut berada di wilayah kecamatan yang menunjukkan peningkatan persentase stunting. Kemudian sebagian besar desa perluasan lokus fokus intervensi stunting mengalami penurunan persentase stunting,” ucapnya.
Dengan demikian, dari data yang dirilis berikut angka presentase stunting. Pihaknya menyarankan agar pola asuh orang tua terhadap anak balita dapat lebih diperhatikan.
“Pasalnya jika dihitung, peran puskesmas maupun posyandu dalam mengintervensi ibu dan balita supaya tidak mengalami stunting hanya berperan 30 persen. Sedangkan upaya preventif dan promotif yang dilakukan Dinas Kesehatan 70 persen sangat berperan. Maka diharapkan para ibu dan anak dapat menyerap apa yang disampaikan oleh tim kami yang bergerak ke lapangan melakukan preventif dan promotif,” jelas Aceng. (jim)






