MEDIA sosial telah menjadi bagian dari kehidupan Generasi Z, termasuk dalam proses belajar. Platform seperti TikTok dan Instagram sering kali digunakan untuk mencari konten edukatif yang menarik. Survei We Are Social tahun 2023 menunjukkan bahwa jumlah pengguna media sosial di Indonesia sebanyak 167 juta orang pada tahun 2023. Jumlah ini setara dengan 60,4% dari total populasi Indonesia.
Meskipun media sosial mempermudah akses terhadap konten edukatif, tetapi memunculkan sejumlah tantangan, seperti kebiasaan doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus menggulir layar tanpa tujuan yang dapat mengurangi fokus pada siswa. Jika sebelumnya siswa mencari jawaban dari pertanyaan di perpustakaan, kini mereka langsung mengetikkan pertanyaan tersebut di kolom pencarian TikTok atau Instagram.
Pola belajar ini lebih instan, tetapi juga dangkal. Konten di media sosial sering kali hanya memberikan gambaran umum, sehingga pelajar cenderung mendapatkan informasi cepat namun kurang kritis.
Media sosial mempengaruhi cara belajar Generasi Z. Algoritmanya dirancang untuk memaksimalkan durasi keterlibatan pengguna, bukan untuk mendukung pembelajaran, sehingga menciptakan ketergantungan. Selain itu, informasi yang berlebihan, termasuk berita palsu atau konten yang tidak relevan, sering kali membingungkan siswa.
Solusi: Media Sosial Sebagai Alat Belajar yang Efektif
Dari pada melarang penggunaan media sosial pada anak, para guru dan orang tua sebaiknya membimbing siswa untuk memanfaatkannya dengan bijak. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
- Kurasi Konten Edukatif
Siswa perlu diajarkan cara mencari dan memfilter konten yang benar-benar mendukung pembelajaran mereka. Contoh konten kreatif seperti video eksperimen sains atau tutorial matematika bisa menjadi media pembelajaran yang efektif.
- Membangun Kebiasaan Belajar yang Seimbang
Orang tua dan guru bisa membantu siswa mengatur waktu penggunaan media sosial agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Teknik seperti pomodoro juga dapat membantu mereka lebih fokus dan produktif, yaitu membagi waktu dengan beraktivitas atau belajar selama 25 menit, lalu kemudian beristirahat sebentar. Baru setelah itu melanjutkannya kembali.
- Memanfaatkan Media Sosial untuk Proyek Kolaboratif
Melalui media sosial, guru dapat memberikan tugas proyek kelompok, seperti pembuatan video edukatif atau penyelenggaraan diskusi daring mengenai isu tertentu.
- Mendorong Literasi Digital
Literasi digital harus menjadi bagian dari kurikulum. Ini mencakup kemampuan untuk mengevaluasi kredibilitas informasi yang ditemukan di media sosial, serta memahami dampak algoritma terhadap perilaku mereka.
Bagi Generasi Z, media sosial dapat menjadi sarana pembelajaran yang inovatif atau justru menjadi distraksi yang merugikan. Tantangannya adalah bagaimana mengarahkan penggunaan media sosial agar lebih produktif dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan. Jika dimanfaatkan dengan bijak, media sosial dapat menjadi jembatan untuk pola pembelajaran yang lebih interaktif dan kreatif. Sebaliknya, jika tidak dikelola dengan baik, media sosial dapat menghambat perkembangan generasi muda.
Dengan demikian, pemanfaatan media sosial untuk proyek kolaboratif dapat mendukung pembelajaran yang lebih efektif, namun tetap memerlukan arahan yang tepat agar tidak menjadi sumber distraksi pada siswa. (***)
Penulis adalah Mahasiswi S1 Jurusan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati–Bandung





