RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Dalam momentum bulan suci Ramadan, SMA Plus Al-Aqsa kembali menggelar program pengabdian masyarakat bertajuk Al-Aqsa Siap Mengabdi (Aqsi). Program tahunan ini berlangsung dari 2 Maret hingga 10 Maret dan dilaksanakan di tiga kabupaten, yakni Sumedang, Bandung, dan Bandung Barat.
Kepala SMA Plus Al-Aqsa, Apip Hadi Susanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sekolah terhadap lingkungan sekaligus ajang pembelajaran bagi 154 siswa kelas 12 sebelum mereka lulus.
Para siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan disebar ke 14 titik, termasuk Padalarang, Cicalengka, Conggeang, Sukasari, dan serta wilayah lainnya di Kecamatan Jatinangor seperti Cintamulya, Cisempur, Hegarmanah dan di Kecamatan Cimanggung yakni Desa Sindangpakuon.
“Ini merupakan program tahunan sebelum siswa keluar dari sekolah. Mereka akan mengabdi selama 10 hari untuk belajar berinteraksi dengan masyarakat serta membantu dalam bidang agama, sosial, dan bidang lainnya,” ujar Apip kepada Radar Sumedang. (04/03)
Ia menambahkan, selama program berlangsung, para siswa berkontribusi dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan. Mereka mengajar pesantren kilat, membimbing anak-anak Diniyah, TK, dan PAUD, serta mengajarkan mata pelajaran Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
“Para siswa telah dibekali metode pengajaran untuk anak-anak Diniyah, TK, dan PAUD. Selain itu, mereka akan berbaur dengan masyarakat dengan bergotong-royong membersihkan masjid dan madrasah. Di akhir pengabdian, siswa juga memberikan bantuan berupa alat kebersihan, jam dinding, dan perlengkapan masjid lainnya,” tambah Apip.

Menurutnya, Program Aqsi juga menjadi sarana bagi siswa untuk berlatih menghadapi kehidupan bermasyarakat, termasuk berkoordinasi dengan RT, RW, dan warga sekitar.
“Sebelum kegiatan berlangsung, kami mensosialisasikan dengan Forkopimcam dan pemerintah desa setempat agar program dapat berjalan lancar,” tambhnya.
Menurutnya, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini sangat tinggi. Bahkan, beberapa warga berharap agar program diperpanjang lebih dari 10 hari. Namun, keterbatasan akomodasi menjadi tantangan tersendiri.
“Tahun lalu, di Tegal Manggung, Kecamatan Cimanggung, kami menemukan madrasah berbahan bambu. Kami bantu dan masyarakat juga turut serta. Hal ini menunjukkan betapa pedulinya mereka terhadap pendidikan dan lingkungan,” ungkap Apip.
Menariknya, program seperti Aqsi umumnya dilakukan oleh mahasiswa. Namun, SMA Plus Al-Aqsa ingin menanamkan nilai kepedulian sejak dini kepada para siswanya.
“Program seperti ini jarang ada di tingkat SLTA. Biasanya hanya mahasiswa yang mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat. Namun, kami ingin menanamkan nilai kepedulian sejak dini kepada para siswa,” tutup Apip.
Program Aqsi tidak hanya memperkuat jiwa sosial para siswa tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat berbagi dan gotong-royong di bulan Ramadan ini diharapkan dapat terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. (tha)





