RADARSUMEDANG.ID – Dalam rangkaian akhir HUT ke-80 RI di Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, pemerintah kecamatan setempat akan mengadakan Gelar Budaya Tegal Kalong pada Sabtu, 6 September 2025. Acara yang dipusatkan di Alun-alun Tegal Kalong itu selain untuk mengupas masalah budaya khususnya terkait Tegal Kalong, secara umum juga bertujuan untuk melestarikan budaya terhadap generasi anak-anak sekarang.
Camat Sumedang Utara, Ayuh Hidayat menerangkan, sebagian di antara generasi anak-anak sekarang mulai melupakan berbagai macam permainan tempoe doeloe. “Nantinya kita akan gelar masalah budaya disini (Tegal Kalong). Dulu anak-anak bermain dengan permainan-permainan tradisional, sekarang sudah bermain gadget,” jelas Camat.
Gelar Budaya Tegal Kalong itu nantinya memunculkan sejumlah permainan anak dahulu atau tradisional seperti loncat tinggi, congklak, dan lain sebagainya yang semua akan digelar disana. Selain digelar, juga akan diadakan edukasi anak-anak yang bekerjasama dengan PKK dan para kader lainnya. “Dimana mereka akan melatih cara main dan cara membuat alat-alatnya,” ucapnya.
Lebih lanjut Camat mengatakan, dalam acara dimaksud juga digelar lomba membuat bangunan saung tempoe doeloe. Para peserta lombanya terdiri dari 10 desa dan tiga kelurahan yang ada di Kecamatan Sumedang Utara.
“Jadi semuanya ada 13 bangunan saung yang akan dilombakan. Ini perlu juga kita kenalkan ke anak-anak sekarang. Dimana sebagian anak sekarang tidak tahu jenis bangunan buhun yang namanya banyak. Nanti akan digelar ditampilkan disitu,” ungkapnya.
Ada beberapa kriteria penilaian dalam lomba bangunan saung tersebut. Mulai dari paling unik saat lomba masak nyangu menggunakan alat-alat buhun. Intinya untuk mengingatkan lagi kepada yang sudah lupa terhadap alat-alat masak buhun atau situasinya. “Dan kami akan menginformasikan dan mengajarkan kepada anak-anak yang belum tahu,” sebut Camat.
Beberapa aspek penilaian lain yaitu gotong-royong saat membuat bangunan saung. Siapa yang mengerjakan dan apakah menyuruh orang lain, termasuk siapa yang bekerja dan berapa orang yang mengerjakan bangunan saungnya.
“Soal sangu, rasa itu nomor berapa. Tapi kita lihat dan nilai gotong-royong dan kebersamaannya. Kreativitasnya, bukan bagusnya, tapi paling unik dan paling kena terhadap tempoe doeloe,” pungkas Camat.
Sedangkan tim penilai dari unsur Disbudparpora dan unsur tokoh budaya serta dinas pendidikan. “Hadiahnya lumayan,” tutup Camat. Sementara khusus bangunan saung milik kecamatan juga dibuat disana untuk memudahkan titik kumpul panitia dan tim penilai. (tri)





