RADARSUMEDANG.id – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjelaskan mengapa harga beras tetap tinggi di tengah ketersediaan stok nasional yang melimpah. Meski produksi nasional tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 33 juta ton, kenaikan harga gabah menjadi penyebab utama melejitnya harga beras di pasar.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menyebutkan “Harga gabah dulu Rp5.500… saat ini minimal dipatok Presiden menjadi Rp6.500 per kg,” katanya seraya mengatakan yang otomatis mendorong harga beras medium untuk naik.
Jika harga gabah melonjak ke level Rp7.000–Rp7.400 per kg, menurut Arief, harga beras medium pun akan sulit dipertahankan di angka HET Rp12.500.
Selain harga gabah, kelangkaan pasokan di ritel modern turut menjadi penyebab tingginya harga beras. Arief menyampaikan bahwa beberapa produsen beras premium sempat menghentikan produksinya karena kasus beras oplosan, sehingga rak-rak supermarket sempat kosong.
Pengamat kebijakan pangan dan ketahanan pangan, Ronnie S. Natawidjaja (Unpad), mengkritik lemahnya penanganan distribusi melalui skema HET dan operasi pasar SPHP:
“Pemerintah terlalu fokus pada kebijakan HET, tapi mengabaikan pengendalian pasokan oleh Bulog… Operasi pasar SPHP pun masih jauh dari efektif,” sebutnya. Realisasi penyaluran SPHP baru mencapai sekitar 16% dari target 1,3 juta ton.(Net)





