Investasi Hijau untuk Sumedang: Menanam Padi, Menumbuhkan Ekonomi

oleh

Oleh: Naya Sunarya

RADARSUMEDANG.id — Sumedang akan ikut serta dalam West Java Investment Roadshow di BJB Tower Jakarta pada Selasa, 23 September 2025. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Bupati Dony Ahmad Munir sebagai upaya memperkuat posisi agregat investasi di Sumedang.

Sebagai gambaran, Sumedang selama ini bertumpu pada sektor pertanian sebagai basis penghidupan mayoritas warganya. Data Badan Pusat Statistik mencatat, pada 2022 sekitar 23,65% tenaga kerja masih menggantungkan hidup dari sektor pertanian, terutama padi.

Data lain menunjukkan, produksi padi di Kabupaten Sumedang pada 2024 mencapai ±271.869 ton. Angka ini menjadi basis yang signifikan untuk memperkirakan produktivitas per hektare jika diketahui luas tanam maupun panennya. Sementara itu, alokasi 7.339 ton pupuk organik bersubsidi menandakan pemerintah pusat maupun daerah mulai memberi ruang lebih besar bagi pupuk organik. Hal ini bisa menjadi titik awal bagi investor untuk memperluas cakupan dan menambah kapasitas distribusi.

Selain itu, data juga menunjukkan hanya sembilan kecamatan yang mendapat alokasi pupuk organik bersubsidi. Artinya, masih banyak kecamatan lain yang belum terlayani. Kondisi ini membuka peluang bagi perluasan proyek pupuk organik di masa mendatang.

Di tengah arus industrialisasi dan urbanisasi, sektor pertanian tetap perlu diberi napas baru agar relevan sekaligus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Rencana investasi sekitar Rp139,8 miliar pada sektor pertanian padi dan pembangunan pabrik pupuk organik di Desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, merupakan peluang langka yang patut disambut dengan serius. Nilai itu memang hanya sekitar 0,3 persen dari total PDRB Sumedang tahun lalu, namun efek berantainya bisa jauh lebih besar. Dengan multiplier pertanian yang rata-rata mencapai 1,5 hingga 2 kali, proyek ini berpotensi menggerakkan output ekonomi tambahan senilai Rp200–300 miliar dalam beberapa tahun ke depan.

Bayangkan jika ribuan petani mendapatkan akses pupuk organik dengan harga lebih terjangkau, produktivitas lahan meningkat, dan hasil panen dipasarkan dengan label Beras Organik Sumedang. Dampaknya bukan hanya tambahan pendapatan petani, tetapi juga penciptaan lapangan kerja baru di sektor pengolahan, distribusi, hingga pemasaran. Warung sembako, transportasi desa, hingga usaha kecil di sekitarnya akan ikut merasakan manfaat. Itulah multiplier effect yang nyata.

Lebih jauh, proyek ini membawa pesan keberlanjutan. Produksi pupuk organik berarti mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang selama ini memberatkan biaya petani sekaligus merusak kesuburan tanah. Dengan pola ini, Sumedang berpeluang tampil sebagai contoh pertanian hijau yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Namun, semua manfaat itu tidak akan datang begitu saja. Pemerintah daerah harus memastikan investor yang masuk membawa komitmen nyata: menyerap tenaga kerja lokal, membeli bahan baku dari petani dan peternak sekitar, sekaligus memberi kepastian harga bagi hasil panen. Tanpa keberpihakan pada masyarakat, investasi hanya akan berhenti sebagai angka belaka tanpa makna.

Karena itu, proyek senilai Rp139,8 miliar ini tidak boleh sekadar menjadi “proposal di atas kertas”. Semua pihak harus menyatukan tekad: pemerintah memberi kepastian regulasi, masyarakat terlibat aktif, dan investor merasa yakin bahwa Sumedang kondusif untuk menanamkan modal. Bila tiga elemen ini bertemu, maka kita bukan hanya menanam padi, melainkan juga menanam masa depan ekonomi Sumedang yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan.

Semoga upaya Pemerintah Kabupaten Sumedang mampu menarik investor untuk menanamkan modalnya dalam proyek tersebut, sehingga napas ekonomi Sumedang mendapat tambahan energi untuk mendukung ekosistem ekonomi sirkular di bidang pertanian dan peternakan.(*)

*)Warga Sumedang, mantan anggota DPRD Kabupaten Sumedang, Ketua Dewas Fokus Sinergi Kemitraan

No More Posts Available.

No more pages to load.