RADARSUMEDANG.id – JAGAT maya diramaikan dengan video anak laki-laki yang menirukan suara terompet hanya dengan mulutnya.
Suara terompet yang viral itu milik seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun asal Jawa Barat. Namanya adalah Rahmat Fauzan, siswa kelas 4 SD di Pondok Pesantren Al Basyariah, Kota Bandung.
Dalam video berdurasi singkat yang viral di media sosial, Fauzan tampak duduk sambil memeragakan bunyi ‘terompet’ yang sangat mirip dengan aslinya, nyaring, teratur, dan menghibur.
Aksi spontan itu awalnya hanya candaan bersama rekan-rekannya. Namun, kini suaranya menggema ke mana-mana.
Saking viralnya, video tersebut telah diunggah ulang oleh beberapa akun klub besar dunia seperti Paris Saint-Germain, Manchester United, Liverpool, Juventus, dan Atletico Madrid, pun akun resmi Premier League.
JPNN berkesempatan menemui Fauzan di sela kegiatannya, Selasa (13/10).
Di aula masjid, dia terlihat kikuk, tetapi ramah. Suaranya kecil, khas anak pesantren yang santun. Sesekali ia tersenyum malu.
Saat berbincang, Fauzan mengingat awal mula suara terompet itu ia bunyikan, direkam dan tersebar ke seantero dunia melalui jagat maya.
“Awalnya cuma iseng doang, teriak cempreng. Ingat suara terompet, jadi, disuarain,” katanya sambil tertawa kecil.
Tak lama setelah itu, gurunya bernama Pak Deden mendengar suara unik Fauzan.
Sang guru kemudian meminta Fauzan menirukan kembali suara terompet sembari merekamnya.
“Pak Deden mereun (mungkin) kedengaran langsung minta nyuarain lagi, terus divideoin, jadi asja viral,” ujarnya.
Saat itu, tak pernah terbayang di benak Fauzan video suara terompetnya bakal viral.
Hingga kemudian, ia mendapat kabar dari gurunya jika video suara terompetnya mendapat respons luar biasa dari warganet.
“Tahu (viral) dari Pak Deden, terus katanya di-uplaod di akun-akun bola,” katanya.
Fauzan mengaku, kemampuannya menirukan suara terompet tak pernah dia pelajari. Menurutnya, semuanya datang secara tiba-tiba.
“Tiba-tiba bisa sendiri, iseng aja,” tuturnya.
Karena videonya viral, Fauzan kini seperti ‘seleb kecil’ hingga banyak diundang ke sana ke mari. Bahkan pada Senin kemarin, dia datang ke Jakarta untuk menghadiri acara televisi.
“Senang, orang tua juga bangga katanya, senang,” katanya.
Piawai Mengumandangkan Azan
Keistimewaan anak yang akrab disapa Ozan itu tidak berhenti di sana.
Di lingkungan pesantren, suaranya sudah dikenal jauh sebelum dunia maya mengetahuinya. Bukan karena terompet, melainkan suara merdunya saat mengumandangkan azan.
Setiap kali waktu salat tiba, Fauzan menjadi salah satu muazin cilik di pesantren.
Suaranya lembut, stabil, dan penuh penghayatan, membuat para santri kecil lain terdiam mendengarkan.
Hal itu diakui oleh KH Moch Dede Miftahuddin AF, Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al Basyariah 1 KH Dede mengenal Fauzan sebagai anak yang patuh dan rajin.
“Pertama, kami dari yayasan dan pondok pesantren sangat bersyukur kepada Allah atas anugerah suara yang istimewa. Dengan anugerah ini terjadi sesuatu hal yang tidak pernah kami kira sebelumnya,” kata Dede kepada JPNN.
Menurutnya, suara azan Fauzan yang berasal dari Kabupaten Tasikmalaya ini sudah dikenal lebih dulu sebelum video terompetnya viral.
“Kami bangga dengan anak yang kami sebut anak juara. Di usia mereka yang masih sangat ketergantungan dengan orang tua mereka sudah mau berada di ponpes dan sebelum suara terompet suara adzan dulu yang dikenal dari beliau,” ujarnya.
Berkah bagi Pondok Pesantren
Viralnya Fauzan membawa berkah tersendiri bagi sekolah dan pondok pesantren.
Banyak tamu datang, mulai dari wartawan, pembuat konten, hingga warga yang penasaran ingin bertemu langsung dengan si ‘bocah terompet’.
KH Dede memandang peristiwa ini sebagai momentum positif untuk mengenalkan dunia pesantren ke masyarakat luas.
“Semoga terbuka untuk siapapun melihat dunia pondok pesantren dan saya berterimakasih kepada tamu yang datang yang mengangkat citra pondok pesantren dan Alhamdulillah di pondok pesantren anak-anak dididik dan seperti apa yang disaksikan,” katanya.
Dede berpandangan, kemajuan teknologi bisa memberikan dampak yang positif, apabila dipergunakan secara baik.
Hal yang paling penting adalah anak-anak tetap dalam koridor yang sesuai dengan nilai-nilai agama.
“Jelas (tidak). Kami selalu berpikir bahwa penari yang baik adalah penari yang tahu pada irama gendang, kalau suasana seperti ini kami harus mengikuti tetapi jelas dalam aturan agama Islam,” tuturnya. (mcr27/jpnn)






