RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Komitmen Universitas Padjadjaran terhadap prinsip Green Campus kembali dibuktikan melalui karya ilmiah terbaru dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Susanti Withaningsih, M.Si., berhasil menyusun buku berjudul “Biodiversity Fauna Kawasan Unpad Jatinangor” yang mendokumentasikan 115 jenis satwa hidup di kawasan kampus bagian utara Unpad Jatinangor.
Buku yang segera terbit ini menjadi langkah strategis Unpad dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-15, Life on Land, sekaligus memperkuat komitmen kampus terhadap pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Penyusunan buku dilakukan secara kolaboratif oleh dosen, mahasiswa, peneliti, dan alumni yang tergabung dalam Departemen Biologi FMIPA, Himpunan Mahasiswa Biologi (Himbio), serta Center for Environment and Sustainability Science (CESS) Unpad. Dukungan juga datang dari Pusat Keselamatan, Keamanan, dan Ketertiban Lingkungan (K3L) Unpad dan Sekolah Pascasarjana.
“Selama bertahun-tahun, hasil pengamatan menunjukkan bahwa Unpad memiliki kekayaan fauna yang tinggi, namun belum pernah terdokumentasi secara menyeluruh,” ujar Dr. Susanti, dosen Biologi FMIPA Unpad yang juga peneliti di CESS.
Buku tersebut mencatat keanekaragaman fauna yang terdiri atas 10 jenis mamalia, 33 burung, 26 herpetofauna (reptil dan amfibi), serta 46 serangga.
Di antara spesies yang ditemukan terdapat satwa langka dan dilindungi seperti Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) berstatus critically endangered dan Elang Ular Bido (Spilornis cheela) yang masuk daftar CITES Appendix II.
“Meskipun kawasan kampus terus berkembang, Unpad masih memiliki area hijau luas yang menjadi habitat alami berbagai spesies. Kombinasi vegetasi alami dan buatan menciptakan mosaik habitat yang mendukung keberadaan fauna kampus,” jelasnya.
Proses penyusunan dilakukan melalui pengamatan lapangan siang dan malam dengan metode standar ekologi, seperti point count untuk burung, visual encounter survey untuk reptil dan amfibi, serta sweeping dengan insect net untuk serangga.
Data hasil pengamatan diverifikasi menggunakan literatur ilmiah dan basis data internasional seperti IUCN Red List, CITES, serta Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/Setjen/KUM.1/12/2018.
Susanti mengakui, salah satu tantangan terbesar dalam observasi adalah mendeteksi spesies nokturnal seperti Kukang Jawa serta memastikan ketepatan identifikasi spesies yang memiliki morfologi serupa.
“Kami berharap penelitian ini membuka jalan bagi upaya pelestarian yang lebih terukur, termasuk kerja sama dengan NGO untuk memantau pergerakan fauna langka di kawasan kampus,” ungkapnya.
Melalui buku ini, Susanti berharap tumbuh kesadaran kolektif sivitas akademika untuk memulai pelestarian keanekaragaman hayati dari lingkungan terdekat.
“Kita tidak harus pergi ke taman nasional untuk melihat keindahan dan pentingnya satwa liar. Kampus tempat kita belajar pun menyimpan kehidupan yang luar biasa,” katanya.
Saat ini, buku “Biodiversity Fauna Kawasan Unpad Jatinangor” tengah menunggu proses penerbitan resmi oleh Unpad Press setelah melalui revisi dari Prof. Dr. Erri N. Megantara dan Prof. Johan Iskandar, M.Sc., Ph.D.. Buku tersebut nantinya akan tersedia gratis melalui laman resmi K3L Unpad, agar dapat diakses oleh masyarakat luas yang ingin mempelajari kekayaan hayati kampus hijau kebanggaan Jawa Barat ini. (tha)





