RADARSUMEDANG.id — Nama Raden Aria Wangsakara kini resmi tercatat dalam sejarah bangsa sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Sosok yang lahir dari keluarga bangsawan Sumedang Larang ini dikenang karena keteguhannya menolak tunduk pada kekuasaan kolonial Belanda serta jasanya membangun dan memimpin wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Tangerang.
Raden Aria Wangsakara lahir di Sumedang sekitar tahun 1615. Ia merupakan keturunan Prabu Geusan Ulun, raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang. Sejak muda, Aria Wangsakara dikenal teguh dalam pendirian, mencintai keadilan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam.
Pada masa itu, sebagian besar wilayah Jawa Barat berada di bawah pengaruh VOC Belanda. Para penguasa lokal banyak yang dipaksa bekerja sama demi mempertahankan kekuasaan mereka. Namun, Aria Wangsakara memilih jalan berbeda — ia menolak bekerja sama dengan penguasa yang tunduk pada kolonial, dan memilih meninggalkan Sumedang demi mempertahankan prinsipnya.
Membangun Pemukiman dan Menyebarkan Islam
Bersama dua kerabatnya, Raden Raksa Jaya dan Raden Jaya Raksa, ia berangkat ke barat Pulau Jawa dan membuka wilayah baru di tepi Sungai Cisadane, yang saat itu masih berupa hutan lebat. Di tempat inilah ia mendirikan pemukiman bernama Tigaraksa, yang kelak berkembang menjadi cikal bakal Kabupaten Tangerang.
Raden Aria Wangsakara kemudian menjadi tokoh yang dihormati masyarakat setempat. Ia memperkenalkan sistem pemerintahan berbasis keadilan, membangun pertanian, serta aktif menyebarkan ajaran Islam secara damai.
Kepemimpinannya dikenal bijak — ia menolak segala bentuk penindasan dan campur tangan Belanda dalam urusan rakyatnya. Sikap anti-kolonialnya membuatnya disegani, sekaligus menjadi simbol perlawanan rakyat lokal terhadap penjajahan.
Simbol Kemandirian dan Keteguhan
Aria Wangsakara memimpin rakyat dengan prinsip “ngawula ka nagara, tapi henteu ngawula ka penjajah” (mengabdi pada negara, bukan pada penjajah). Prinsip ini menjadikannya sosok panutan yang dihormati hingga kini, tidak hanya di Tangerang, tetapi juga di tanah kelahirannya, Sumedang.
Raden Aria Wangsakara wafat sekitar tahun 1720 dalam usia lebih dari seratus tahun. Makamnya kini terletak di Lengkong Kyai, Serpong, Tangerang Selatan, dan telah menjadi salah satu situs ziarah sejarah penting di Provinsi Banten.
Atas jasa-jasanya dalam membangun tatanan sosial, memperjuangkan kemandirian rakyat, dan menyebarkan nilai-nilai Islam, pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/2021 secara resmi menetapkan Raden Aria Wangsakara sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2021, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional. Penetapan itu dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, bersama empat tokoh nasional lainnya.
Dari Sumedang untuk Indonesia
Meski kini lebih dikenal sebagai pendiri Tangerang, jejak Raden Aria Wangsakara tetap menjadi kebanggaan masyarakat Sumedang. Ia adalah bukti bahwa nilai-nilai kepahlawanan sejati tidak hanya lahir dari medan pertempuran, tetapi juga dari keteguhan moral dan keberanian menolak tunduk pada ketidakadilan.
Kisah hidupnya menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa perjuangan untuk kedaulatan bangsa dimulai dari keberanian untuk berkata “tidak” pada penindasan.(Net)





