RADARSUMEDANG.id, SUMEDANG SELATAN – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Sumedang sejak Minggu (30/11) sore menyebabkan Sungai Cipicung meluap dan merendam permukiman warga di Lingkungan Singaparna, Kelurahan Regolwetan, pada Minggu malam.
Sedikitnya 11 rumah di RW 11, RW 9, dan RW 8, serta dua sekolah dasar, terdampak banjir. Dalam rekaman video milik warga, terlihat area SDN Sukasirna 1 dan SDN Sukasirna 2 terendam air setinggi sekitar 60 sentimeter. Sejumlah warga juga tampak menyelamatkan barang-barang penting dari dalam sekolah.
Kepala SDN Sukasirna 1, Inggrit Gantina, mengatakan bahwa informasi pertama mengenai banjir ia dapatkan dari suaminya setelah para guru gagal menghubunginya.
“Saat saya lihat di grup, air sudah naik sampai selutut lebih, terutama di area kantor,” ujarnya.
Inggrit menjelaskan, banjir merendam enam ruang kelas, ruang musala, perpustakaan, dan ruang kantor. Sejumlah perangkat elektronik pun rusak karena tidak sempat dievakuasi.
“Tiga unit speaker, satu proyektor, serta banyak buku pelajaran dan laporan-laporan terendam air dan kondisinya rusak,” ucapnya.
Akibat kondisi tersebut, kegiatan belajar mengajar sementara dialihkan menjadi belajar di rumah. Pihak sekolah bersama BPBD dan orang tua murid melakukan pembersihan serta menyelamatkan dokumen yang masih memungkinkan untuk diselamatkan.
Sementara itu, Lurah Regolwetan, Yopi Purwa Nugraha, menyebut banjir terjadi akibat luapan Sungai Cipicung sekitar pukul 18.00 WIB.
“Ketinggian air bervariasi, ada yang sampai 1 meter hingga 2,5 meter. Untuk area SD Sukasirna sekitar 60 sentimeter,” katanya.
BPBD bersama kepolisian telah turun ke lokasi untuk membantu evakuasi dan melakukan pendataan warga terdampak.
Rendaman air membuat aktivitas belajar mengajar di SDN Sukasirna 1 dan 2 terpaksa dihentikan sementara. Ratusan siswa, yakni 89 siswa SDN Sukasirna 2 dan 125 siswa SDN Sukasirna 1, mengikuti pembelajaran secara daring.
Berdasarkan pantauan Senin (1/12) pagi, siswa, guru, dan orang tua melakukan kerja bakti membersihkan lumpur dari ruang kelas. Dokumen, perlengkapan belajar, hingga buku-buku yang rusak juga mulai dipilah.
Kepala Bidang Pengembangan Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Dondon, mengatakan pihaknya sudah melakukan pendataan awal terkait kerusakan fasilitas sekolah.
“Beberapa ruang kelas, peralatan elektronik, administrasi sekolah, sampai beberapa set sofa rusak akibat banjir dengan ketinggian mencapai sekitar 1 meter,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan kerusakan akan diusulkan pada anggaran 2026. Sementara itu, pembelajaran dilakukan dengan metode Belajar Dari Rumah (BDR) selama dua hari sambil menunggu pembersihan dan penataan ruang kelas selesai.
“Insya Allah tidak berlangsung lama. Penanganan administrasi dan perbaikan fasilitas dilakukan bertahap,” katanya.
Untuk mencegah kejadian serupa, Dinas Pendidikan bersama instansi terkait menyiapkan langkah jangka pendek berupa normalisasi aliran sungai di sekitar sekolah. Hingga kini, nilai kerugian materiil masih dihitung. (gun)






