Sumedang Short Film Festival 2025 Naik Kelas Jadi Ajang Internasional, Jaring Peserta Asia Tenggara dan Australia

oleh
Crew Film pemenang SSFF 2025 untuk kategori Film Pendek Lokal terbaik yang merupakan Sienas asal Sumedang dengan Filmnya berjudul Hajat Lembur.

RADARSUMEDANG.id, SUMEDANG – Sumedang Short Film Festival (SSFF) 2025 yang digelar di Aula Tampomas, Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Sabtu malam (6/12/2025), menjadi momentum penting bagi perkembangan perfilman lokal.
Festival film pendek tahunan yang mulai hadir sejak 2020 itu kini resmi naik kelas menjadi ajang internasional yang menjaring peserta dari Asia Tenggara hingga Australia.

Plt. Kepala Disparbudpora Kabupaten Sumedang, Dr. Dian Sukmara, menyampaikan rasa bangganya atas keberhasilan penyelenggaraan festival yang mampu menarik perhatian sineas dari berbagai negara. Menurutnya, capaian tersebut membuktikan bahwa talenta lokal kini percaya diri tampil dan mengangkat identitas daerah ke panggung dunia.

“Para sineas kita telah membuktikan bahwa Sumedang punya potensi besar. Karya-karya mereka berani berbicara di level dunia, bahkan bersaing dengan peserta dari Asia Tenggara hingga Australia,” ujar Dian kepada Radar Sumedang.

Ia menegaskan, keberhasilan ini sejalan dengan nilai historis Sumedang sebagai Himbar Buana, simbol kejayaan masa lalu yang kini kembali digaungkan melalui kreativitas generasi muda. Dian berharap penyelenggaraan SSFF tahun-tahun berikutnya semakin baik dan melahirkan lebih banyak talenta film lokal. “Sumedang bukan kota kecil. Sumedang adalah kota berbudaya, bermartabat, dan mampu berdiri sejajar dengan daerah lain lewat karya,” katanya.

Tahun ini, SSFF mencatat sekitar 700 pendaftar, dengan 127 karya yang lolos kurasi. Peserta datang dari sejumlah negara, termasuk Timor Leste, Thailand, Tiongkok, dan Jepang. Salah satu karya asal Sumedang yang turut bersaing adalah film bertema budaya berjudul Hajat Lembur, yang dinilai menggali tradisi lokal dan memberi inspirasi bagi masyarakat.

Project Manager SSFF 2025, Anggun Gunara, menjelaskan bahwa pihaknya memperluas jangkauan peserta ke kawasan Asia Tenggara dan Australia dengan membawa semangat Southeast Solidarity, yaitu kolaborasi lintas negara dalam keberagaman. “Festival ini menjadi ruang bagi sineas lokal untuk menyalurkan karya, berkolaborasi, memperluas koneksi, sekaligus mengangkat budaya Sumedang lewat film,” katanya.

Sebelum malam penganugerahan, panitia menggelar rangkaian pemutaran film (screening) di beberapa lokasi, seperti Mata Air Cigirang Cilangkap Buahdua, Tampomas Eco Green Park, Cibeureum Wetan Cimalaka, serta salah satu kafe di pusat kota. Screening tersebut memberi kesempatan penonton menikmati langsung pesan yang ingin disampaikan para pembuat film.

Anggun mengakui penyelenggaraan festival berskala internasional bukan hal mudah, terutama dengan keterbatasan sumber daya. Namun ia bersyukur seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung maksimal berkat dukungan banyak pihak. “Tantangannya besar, tetapi kebersamaan membuat semuanya teratasi. Festival ini bukan hanya milik para pembuat film, melainkan milik seluruh masyarakat Sumedang,” ujarnya.

Terkait masih minimnya peserta asal Sumedang, Anggun berharap tahun mendatang lebih banyak sineas lokal yang mendaftar.
“SSFF hadir bukan untuk menciptakan jarak, tetapi membuka ruang seluas-luasnya bagi para konten kreator Sumedang,” katanya. (jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.