RADARSUMEDANG.id, SUMEDANG SELATAN – Satu rumah tidak layak huni (Rutilahu) di RT 04 RW 05, Dusun Nagrog, Desa Margamekar, ambruk setelah diguyur hujan dan terbawa longsoran Tembok Penahan Tebing (TPT), Selasa (9/12) sore.
Rumah semi permanen milik Andriyana (42), yang dihuni bersama istri dan empat anaknya, mengalami kerusakan cukup parah. Bagian dinding atas rumah lebih dulu jebol saat waktu Magrib, disusul runtuhnya dinding bawah setelah Isya. Tak lama kemudian, TPT di sisi rumah ikut longsor sehingga bangunan kini dalam kondisi terancam roboh.
“Pas Magrib rubuh yang atas, setelah Isya yang bawahnya kedorong. Dua kali longsor. Hujannya tidak terlalu besar, tapi kemarin hujan deras rumah sudah miring dan muncul retakan,” ujar Andriyana, Rabu (10/12).
Saat kejadian, seluruh anggota keluarga berada di dalam rumah. Beruntung, tidak ada korban luka. Namun runtuhan material membuat ruang tamu tidak lagi aman untuk ditempati.
“Lagi pada di dalam rumah, kaget juga. Tapi sebelumnya sudah ada tanda-tanda karena ada retakan,” katanya.
Meski sempat bertahan semalam, keluarga Andriyana akhirnya memutuskan mengungsi ke rumah kerabat demi menghindari potensi ambruk susulan selama perbaikan darurat berlangsung.
“Sementara ngungsi ke atas, ke rumah saudara. Anak empat sama istri,” tuturnya.
Pada Rabu pagi, warga setempat bergotong royong membersihkan material longsoran berupa tembok dan bebatuan. Mereka juga memasang penahan sementara dari bambu untuk mencegah rumah semakin miring.
Ketua RW 05 Desa Margamekar, Maman Suherman, mengatakan rumah tersebut sebenarnya sudah diajukan dalam program perbaikan Rutilahu. Namun kuota bantuan telah habis sehingga harus menunggu pengajuan ulang.
Untuk sementara, bantuan 20 sak semen dari Baznas Sumedang sudah diterima, dan pemerintah desa dijadwalkan menyalurkan bantuan pasir.
“Bantuan ini mungkin untuk memperbaiki benteng TPT dulu, minimal menahan rumah supaya tidak makin roboh,” ujarnya.
Maman berharap dinas terkait segera turun tangan mengingat kondisi bangunan yang kini sangat darurat.
“Kerugian mungkin sekitar Rp50 juta. Sekarang kami kerja bakti dari satu RW untuk penanganan darurat sambil menunggu datangnya pasir,” katanya. (gun)





