Simposium Budaya Bangun Jejaring Nusantara

oleh
Komunitas Swarabuana seusai menggelar Simposium bertajuk Membangun Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara

RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Komunitas Swarabuana menggelar Simposium bertajuk Membangun Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara digelar sebagai upaya merekonstruksi kembali gagasan Nusantara agar tetap relevan menjawab tantangan masa depan yang digelar di Saung Budaya Sumedang (Sabusu) Jatinangor.

Salah satu pengurus Komunitas Swarabuana, Wahyu, menegaskan
Simposium tersebut menempatkan Nusantara bukan sebagai romantisme sejarah, melainkan sebagai pengetahuan hidup yang lahir dari perjumpaan lintas budaya, spiritualitas, serta relasi harmonis antara manusia dan alam.

“Isu krisis ekologis, keterputusan sosial, dan melemahnya nilai kebersamaan menjadi latar penting pembahasan,” katanya belum lama ini.

Ia menambahkan, pembicaraan tentang Nusantara saat ini harus dimaknai secara kritis dan kontekstual.

“Nusantara merupakan peradaban perjumpaan yang mengajarkan cara hidup bersama dalam keberagaman, bukan untuk mendominasi atau menguasai,” tambahnya.

Melalui simposium ini, panitia berupaya membangun jejaring lintas komunitas budaya dari berbagai wilayah, mempertemukan gagasan serta praktik baik, sekaligus merumuskan langkah bersama dalam merawat nilai kebudayaan, spiritualitas, dan keberlanjutan hidup.

“Kami (Komunitas Swarabuana) lahir dari kesadaran akan pentingnya menyelaraskan kembali hubungan manusia dengan alam. Kata Swara dimaknai sebagai suara atau panggilan, sedangkan Buana berarti bumi. Swarabuana diartikan sebagai suara bumi yang mengingatkan manusia untuk kembali menyatu dengan semesta,” ujarnya.

Selain diskusi budaya, kata ia, komunitas ini juga menumbuhkan nilai welas asih dan kesadaran spiritual melalui doa, meditasi, serta penggalian kebijaksanaan leluhur Nusantara. Budaya dirawat sebagai akar jati diri, sementara gotong royong dan solidaritas sosial diperkuat sebagai fondasi kehidupan bersama.

“Simposium dirancang sebagai ruang dialog terbuka dan partisipatif dengan menghadirkan pemantik dari beragam latar belakang budaya dan komunitas. Kami berharap dapat menjadi jembatan penghubung antara manusia dengan alam, antar sesama, serta dengan Sang Pencipta,” tandasnya. (tha)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.