Oleh: Dr. Ir. Dudi, S.Pt., M.Si., IPM
RADARSUMEDANG.id — Domba Garut (Ovis aries) bukan sekedar hewan ternak; ia adalah mahakarya evolusi biologi dan budaya Parahayangan. Memiliki karakteristik prolific (mampu melahirkan anak kembar) dan daya adaptasi tropik yang luar biasa. Domba Garut merupakan “permata hijau” dalam peta genetik ternak nasional. Namun, dibalik popularitasnya tersimpan ancaman sunyi: degradasi mutu genetik yang jika dibiarkan akan membuat ras murni ini hanya tinggal sejarah.
Paradoks Perkawinan Sedarah dan Erosi Genetik. Masalah fundamental ditingkat peternakan rakyat adalah tingginya angka inbreeding (perkawinan sedarah) akibat ketiadaan sistem pencatatan silsilah (recording). Secara saintifik, ini memicu depresi inbreeding yang menurunkan nilai heritabilitas sifat-sifat produktif. Di sisi lain, tren crossbreeding (persilangan) dengan ras eksotik sperti Dorper tanpa kontrol ketat justru mengancam breeding value (nilai pemuliaan) lokal yang telah teruji secara alami.
Akurasi Seleksi melalui Indeks dan Markah Molekuler. Sebagai akademisi, kami di Universitas Padjadjaran menekankan pentignya penggunaan indeks seleksi yang mengkombinasikan data performa pertumbuhan (berat sapih dan berat umur setahun) dengan karakteristik morfometrik khas Garut. Kita tidak bisa hanya melihat satu aspek. Akurasi seleksi harus ditingkatkan melalui pendekatan Marker Assisted Selection (MAS) dengan mengidentifikasi gen-gen potensial seperti GDF9 (Growth Differentiation Factor 9) atau CAST (Calpastatin) yang mengontrol kualitas daging dan pertumbuhan.
Pendekatan ini memungkinkan kita melakukan pendugaan Nilai Pemuliaan Ternak (Estimated Breeding Value) secara lebih presisi. Dengan demikian, kita dapat menjamin bahwa pejantan yang didistribusikan ke masyarakat adalah individu “berdarah biru” secara genetic yang mampu mewariskan keunggulannya pada generasi mendatang tanpa melunturkan identitas fenotipe kombinasi telinga ngadun hiris dan ekor ngabuntut beurit atau ngabuntut bagong.
Digitalisasi Pedigree: Solusi Era 4.0. Langkah mendesak lainnya adalah digitalisasi silsilah. Implementasi kartu ternak berbasis pangkalan data nasional akan memungkinkan peternak memantau koefisien inbreeding secara real-time. Sinergi antara teknologi semen beku (insemninasi buatan) dan data genetik yang akurat akan menciptakan skema pemuliaan tertutup (closed breeding system) yang mampu memurnikan kembali populasi Domba Garut yang mullai terintrusi gen asing.
Kesimpulan Peningkatan mutu genetic Domba Garut harus diletakkan dalam kerangka konservasi yang produktif. Kita tidak ingin Domba Garut hanya menjadi pajangan di museum plasma nutfah, namun juga tidak ingin ia kehilangan jati dirinya demi sekedar mengejar angka ditimbang. Sinergi antara riset universitas, kebijakan pemerintah dan praktik peternak adalah kunci untuk memastikan Domba Garut tetap mejadi “Raja di tanah sendiri — unggul secara biologis, murni secara genetis.(*)
*)Pakar Pemuliaan Ternak Tropik Departemen Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran






