Munggahan, Tradisi Bungah Sambut Anugerah Ramadan

oleh

RADARSUMEDANG.id, PAMULIHAN – Tradisi munggahan atau botram bersama menjelang Ramadan kini kian marak digelar di berbagai daerah. Momentum kebersamaan itu dimaknai sebagai wujud rasa syukur dan kebahagiaan menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Pimpinan Umum Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy-Syifaa Wal Mahmuudiyyah, Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir al Manafi, menyebut munggahan berasal dari kata munggah atau bungah dalam bahasa Sunda yang berarti bahagia.

Menurut Abuya, kebahagiaan itu bukan sekadar makan bersama, tetapi menghadirkan rasa syukur dalam hati karena akan datangnya Bulan Suci Ramadan.

“Ramadan adalah anugerah istimewa dari Allah SWT yang tidak ada bandingannya, khusus diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW,” ujarnya dalam pesan menyambut Ramadan 1447 H.

Abuya mengajak umat Islam untuk siaga satu menyambut Ramadan dengan memperbanyak amal saleh. Ia menegaskan agar umat memperbanyak ibadah sunah setelah menunaikan yang fardhu, serta menjauhi hal-hal makruh setelah meninggalkan yang haram.

Selain itu, umat dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an, membaca sholawat terutama sholawat masyhur yang telah diijazahkan serta memperbanyak dzikir dan doa, baik saat berpuasa, berbuka, maupun sahur.

Abuya juga menekankan pentingnya memakmurkan masjid, khususnya oleh kaum laki-laki, serta memperbanyak i’tikaf sejak awal Ramadan, tidak hanya di sepuluh hari terakhir.

“Keutamaan i’tikaf di bulan Ramadan luar biasa,” katanya.

Ia mengingatkan umat agar menjauhi gibah, namimah, fitnah, dusta, hasad, ingkar janji, sumpah palsu, dan berbagai sifat buruk lainnya yang dapat merusak pahala puasa. Termasuk berhati-hati dalam membuat dan membagikan konten di media sosial agar tidak mengandung dosa.

Selain itu, umat diminta menghindari hal-hal yang melalaikan hati dari Allah SWT serta menjauhi kemaksiatan. Abuya bahkan menganjurkan memiliki ruang khusus untuk berkhalwat atau menyepi, terutama bagi mereka yang memiliki cita-cita besar dan harapan tinggi, karena Ramadan adalah bulan penuh rahmat, maghfirah, keberkahan, dan ijabah doa.

Ia juga mengingatkan agar niat puasa murni karena Allah SWT, bukan karena alasan duniawi seperti diet.

“Niatkan menjalankan perintah Allah dan mencari ridha-Nya. Insya Allah, urusan dunia akan mengikuti,” tuturnya.

Lebih lanjut, Abuya berharap Ramadan tahun ini benar-benar menjadi momentum peningkatan keimanan, kesalehan, kualitas dan kuantitas ibadah, akhlak mulia, serta keilmuan.

Umat juga diajak memperbanyak istighfar, tafakur atas kebesaran Allah, serta tadabbur terhadap firman Allah dan sabda Rasulullah SAW.

“Jangan jadikan Ramadan sebagai Ramadan perut, tapi jadikan Ramadan hati. Jika perut yang diutamakan, maka hanya soal menu, pakaian, dan jalan-jalan. Tapi jika hati yang diutamakan, maka hati semakin dekat kepada Allah,” pesannya.

Abuya mengajak seluruh umat untuk saling mendoakan agar memperoleh anugerah Ramadan dan tidak termasuk golongan yang terlewat dari limpahan rahmat-Nya. (tha)

No More Posts Available.

No more pages to load.