BERITA SINGKAT
- Harga plastik naik 30–50 persen dalam sepekan terakhir di Bandung.
- Pelaku UMKM menahan kenaikan harga jual demi menjaga pelanggan.
- Biaya produksi meningkat, omzet tertekan, margin keuntungan menipis.
- Harga buah dan bahan baku lain juga ikut naik di sejumlah pasar.
- UMKM bertahan sambil berharap kondisi segera stabil.
RADARSUMEDANG.id, BANDUNG – Kenaikan harga plastik yang mencapai 30 hingga 50 persen dalam sepekan terakhir mulai menekan pelaku UMKM, khususnya pedagang minuman dan kuliner di Kota Bandung. Meski biaya produksi melonjak, sebagian besar pelaku usaha memilih tidak menaikkan harga jual demi menjaga daya beli pelanggan yang masih lemah.
Pedagang minuman dan warung, Fitri, mengaku lonjakan harga terasa saat membeli bahan kemasan seperti cup, sedotan, dan plastik minuman. Ia menyebut modal yang sebelumnya berkisar Rp900 ribu kini tembus lebih dari Rp1 juta untuk kebutuhan yang sama.
Menurutnya, keputusan menaikkan harga bukan hal mudah. Ia memilih menahan harga jual meski harus merelakan margin keuntungan yang terus menipis.
“Kalau dinaikkan seribu sampai dua ribu rupiah, takut pelanggan kabur. Jadi sementara ditanggung dulu,” ujar Fitri, Selasa (7/4/2026).
Kondisi serupa juga dialami pedagang di kawasan Lengkong Kecil, Saupri. Ia mencatat kenaikan harga plastik sekitar 20 persen, dengan harga cup ukuran standar naik dari Rp9 ribu menjadi Rp11 ribu per 50 buah, sementara tutup plastik naik dari Rp4 ribu menjadi Rp5 ribu.
“Kenaikan ini tidak hanya berdampak pada pedagang minuman, tetapi juga pelaku usaha kuliner secara luas, karena kemasan plastik menjadi kebutuhan utama operasional harian,” kata Saupri.
Selain kemasan, pelaku usaha juga menghadapi kenaikan harga bahan baku makanan, terutama buah-buahan. Di pasar Andir dan Ciroyom, harga sejumlah komoditas melonjak signifikan.
Mangga kaweni naik dari Rp18 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram, alpukat dari Rp22 ribu menjadi Rp28 ribu, buah naga dari Rp15 ribu ke Rp20 ribu, serta melon dari Rp17 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram.
Menurut Saupri, kenaikan tersebut diduga akibat terbatasnya pasokan di tingkat grosir serta pemborongan oleh pemasok besar yang membuat barang semakin langka di pasar tradisional.
Dampaknya, pelaku usaha kuliner kini menghadapi dilema. Jika harga dinaikkan, mereka khawatir kehilangan pelanggan. Namun jika takaran dikurangi, kualitas produk bisa menurun.
Pelaku usaha kopi kekinian, Didin, juga merasakan dampak langsung dari kenaikan harga plastik. Ia menyebut kemasan merupakan bagian penting dari produk minuman siap saji.
“Untuk sekarang kami belum berani menaikkan harga, karena daya beli masyarakat masih belum stabil. Takaran juga tetap dipertahankan supaya kualitas rasa tidak berubah,” kata Didin.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada alternatif kemasan ramah lingkungan yang benar-benar bisa menggantikan fungsi plastik, khususnya untuk minuman kopi dan jus.
Didin juga menyebut kenaikan harga plastik mulai terasa sejak akhir pekan lalu, dengan harga cup yang sebelumnya Rp15 ribu kini naik menjadi Rp19 ribu.
Para pelaku UMKM sepakat, jika kondisi ini terus berlanjut, penyesuaian harga jual kemungkinan akan dilakukan. Namun, langkah tersebut menjadi opsi terakhir di tengah kekhawatiran turunnya daya beli masyarakat.
Di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat, pelaku UMKM kini bertaruh pada loyalitas pelanggan. Mereka memilih bertahan, meski harus mengorbankan keuntungan, demi menjaga keberlangsungan usaha di tengah situasi yang belum pasti.
(dsn)





