BERITA SINGKAT
- Pemkab Sumedang menggelar Job Fair 2026 di Gedung Creative Center selama dua hari.
- Sebanyak 20 perusahaan membuka 2.750 lowongan kerja bagi pencari kerja lokal.
- Kegiatan ini bagian dari rangkaian Hari Jadi Sumedang ke-448.
- Panitia membatasi kuota pengunjung untuk menghindari penumpukan massa.
- Pencari kerja menyoroti ketatnya persaingan hingga isu diskriminasi usia.
RADARSUMEDANG.id – Pemerintah Kabupaten Sumedang melalui Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) kembali membuka peluang bagi para pencari kerja melalui Job Fair (bursa kerja) 2026 yang digelar di Gedung Creative Center (GCC) Sumedang, Selasa (21/4/2026).
Sejak pagi, ratusan pencari kerja usia produktif tampak memadati lokasi dengan membawa berkas lamaran dalam map cokelat. Dengan balutan pakaian formal hitam putih, mereka juga memanfaatkan teknologi dengan memindai barcode yang disediakan untuk mengakses informasi lowongan kerja secara cepat dan praktis.
Kepala Disnakertrans Kabupaten Sumedang, Taufik Hidayat Slamet, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Jadi Sumedang ke-448. Tujuannya untuk mempercepat penyerapan tenaga kerja yang dinilai masih belum seimbang dengan jumlah angkatan kerja.
“Kolaborasi dengan dunia usaha menjadi kunci utama pemerintah daerah dalam menekan angka pengangguran terbuka. Kami menggandeng mitra ketenagakerjaan untuk menyediakan 2.750 lowongan kerja. Ini adalah langkah strategis untuk memberikan akses langsung bagi warga Sumedang ke dunia industri,” ujar Taufik, didampingi Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Ketenagakerjaan, Bambang Setiawan.
Dalam bursa kerja kali ini, sebanyak 20 perusahaan besar turut ambil bagian dengan total 2.750 lowongan kerja yang ditawarkan. Kegiatan berlangsung selama dua hari dengan sistem pembagian kuota guna menghindari penumpukan pengunjung, yakni 1.500 peserta di hari pertama dan 1.700 peserta di hari kedua.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Taufik juga mengingatkan para pencari kerja untuk terus meningkatkan kompetensi dan daya saing. Menurutnya, kesiapan mental dan kemampuan diri menjadi faktor penting untuk dapat bersaing di dunia kerja.
“Kesempatan tidak datang dua kali. Manfaatkan peluang ini sebaik mungkin. Teruslah asah kemampuan diri dan jangan pernah menyerah,” tuturnya.
Ia menambahkan, tingginya antusiasme masyarakat mendorong pemerintah daerah untuk kembali menggelar kegiatan serupa secara berkala.
“Kita akan menggelar hal serupa secara rutin, paling tidak tiga bulan sekali. Ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam memperluas akses lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang pencari kerja, Rivan (28), warga Kelurahan Situ, Sumedang Utara, mengaku memanfaatkan momentum Job Fair untuk mencari pekerjaan tetap setelah kontraknya di sebuah perusahaan ritel di Yogyakarta berakhir.
“Jujur saja sekarang gampang-gampang susah cari kerja, karena saingannya banyak, syaratnya juga kompleks. Saya masih freelance sebagai sopir rental, tapi tetap butuh pekerjaan tetap untuk kebutuhan hidup dan membantu keluarga,” katanya.
Rivan juga menyoroti fenomena sulitnya mendapatkan pekerjaan tanpa relasi serta adanya dugaan praktik “jalur orang dalam”.
“Dunia kerja itu kejam, kalau tidak punya koneksi memang susah,” ucapnya.
Ia bahkan mencoba mencari peluang kerja ke luar negeri melalui Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), namun menghadapi kendala syarat usia yang dinilai diskriminatif.
“Saya kaget saat ditanya umur. Padahal saya tahu ada wacana penghapusan batas usia. Tapi kenyataannya masih banyak yang mensyaratkan usia di bawah 25 tahun,” ungkapnya.
Rivan berharap pemerintah dapat mengatasi persoalan tersebut agar tidak menghambat pencari kerja usia produktif yang sebenarnya memiliki pengalaman dan kompetensi.
“Seolah masih ada diskriminasi umur. Padahal dari sisi pengalaman dan mental kerja, usia seperti saya justru lebih matang,” pungkasnya. (jim)





