Disparbudpora Sumedang Apresiasi Panggung Ekosistem Budaya HJS ke-448, Perkuat Identitas Sunda

oleh
Ngibing Tarawangsa: seorang seniman cilik yang masih SD saat memamerkan kemampuan ngibing Tarawangsa oada Ekosistem Budaya Kasumedangan di halaman MPP Sumedang dalam rangka HJS ke-448, belum lama ini.

BERITA SINGKAT

  • Disparbudpora Sumedang apresiasi panggung Ekosistem Budaya Kasumedangan di HJS ke-448.
  • Ajang ini dinilai memperkuat identitas budaya Sunda dan ruang ekspresi seniman lokal.
  • Ekosistem budaya dorong kolaborasi seni, teknologi, dan ekonomi kreatif.
  • Kegiatan libatkan UMKM, pariwisata, hingga kreator digital.
  • Media dinilai berperan penting dalam pelestarian budaya di era digital.

RADARSUMEDANG.id, SUMEDANG – Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang menyampaikan apresiasi atas kerja keras panitia Hari Jadi Sumedang (HJS) ke-448 yang telah memberikan ruang aktualisasi bagi pegiat seni budaya lokal.

Apresiasi tersebut disampaikan terkait penyelenggaraan panggung hiburan Ekosistem Budaya Kasumedangan yang digelar pada Kamis (23/4/2026) di halaman Mal Pelayanan Publik (MPP) Sumedang.

Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Kabupaten Sumedang, Moch. Budi Akbar mengatakan, kolaborasi dan aktualisasi seni budaya khas Sumedang dalam kegiatan tersebut mencerminkan upaya nyata pelestarian tradisi Sunda sekaligus penguatan identitas daerah di tingkat Jawa Barat.

“Tentunya kami ucapkan terima kasih, para pegiat seni budaya di Sumedang telah diberikan ruang untuk tampil pada momentum sakral kemarin, terlebih di Hari Jadi Sumedang. Momentum ini jelas memperkuat identitas daerah, serta menjadi ruang ekspresi pelaku seni sehingga masyarakat yang menyaksikan betul-betul terhibur dan reugreug bahwa budaya leluhur masih tetap dilestarikan,” kata Budi kepada Radar Sumedang, Selasa (28/4/2026).

Menurutnya, ekosistem budaya merupakan wadah kolaborasi antara pemerintah, pelaku seni, unsur kebudayaan, dan masyarakat dalam satu siklus berkelanjutan yang mengintegrasikan teknologi dan ekonomi kreatif.

“Ekosistem ini menciptakan ruang bagi pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan karya budaya daerah,” ujarnya.

Selain itu, ekosistem budaya juga bertujuan menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda sekaligus mendorong pengakuan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Sumedang hingga ke tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional.

Budi menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana hiburan dan edukasi, tetapi juga berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan UMKM, sektor pariwisata, hingga kreator digital seperti YouTuber.

“Para seniman muda seperti musik etnik binaan Disparbudpora juga turut andil sehingga menjadi kebanggaan tersendiri,” katanya.

Ia berharap, seluruh pihak dapat bersama-sama mencegah kepunahan budaya sekaligus menarik minat mahasiswa dan akademisi untuk mengkaji potensi budaya daerah.

“Semoga melalui pagelaran ini, bisa menanamkan nilai-nilai budaya kepada peserta didik, bangga menjadi pewaris budaya, serta berdampak positif bagi peningkatan kesadaran budaya, kebanggaan lokal, kemajuan ekonomi, dan pariwisata,” tuturnya.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif seniman, budayawan, komunitas, lembaga pendidikan, museum, hingga masyarakat luas.

Tak kalah penting, peran media juga dinilai sangat krusial dalam mendukung pelestarian budaya di era digital.

“Platform digital sangat penting sebagai sarana sosialisasi dan publikasi, menjadi jembatan yang menghubungkan budaya lokal dengan khalayak modern, serta memastikan kelangsungan budaya di tengah arus globalisasi,” pungkasnya.

(jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.