OLEH: DODI PARTAWIJAYA, S.PD. I., M.PD
REFLEKSI di hari lahirnya Pemuda Muhammadiyah tepatnya 2 Mei 2026, Pemuda Muhammadiyah telah berusia 94 Tahun. Tepat pada 2 Mei 1932 melalui Muktamar Muhammadiyah di Makasar Pemuda Muhammadiyah dibentuk secara resmi. Meskipun bila merujuk pada induk awal PM, yakni Hizbul Wathon, telah berdiri sejak 1918.
Di usia yang menuju satu abad ini, Pemuda Muhammadiyah berdiri di persimpangan zaman yang menuntut satu komitmen tegas: Menegaskan Jalan Kenegarawanan.
Sembilan puluh empat tahun bukanlah sekadar deretan angka dalam penanggalan. Bagi Pemuda Muhammadiyah, usia ini adalah monumen ketangguhan sebuah gerakan yang lahir dari rahim perjuangan bangsa sejak 2 Mei 1932.
Di tengah pusaran zaman yang kian tak menentu, peringatan Milad ke-94 ini menjadi titik pijak krusial untuk melakukan reorientasi: sejauh mana pemuda sanggup menjadi lokomotif kemajuan menuju impian besar Indonesia Raya?
Bagi Pemuda Muhammadiyah, usia ini adalah refleksi dari perjalanan panjang sebuah gerakan yang lahir dari rahim ketulusan KH Ahmad Dahlan untuk mendidik kaum muda agar memiliki “intelek yang ulama, dan ulama yang intelek.”
Politik Praktis di bawah Kenegarawanan
Di tengah hiruk-pikuk polarisasi dan pragmatisme politik yang sering kali menguras energi bangsa, jalan kenegarawanan adalah pilihan yang berani sekaligus sunyi.
Bagi Pemuda Muhammadiyah, kenegarawanan bukan berarti menjauh dari ruang publik atau politik, melainkan cara berpolitik yang berlandaskan etika profetik.
Menegaskan jalan kenegarawanan berarti menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan atau faksi politik sesaat.
Kader Pemuda Muhammadiyah dituntut untuk menjadi “titik temu” di tengah perbedaan, menjadi pendingin di saat suasana memanas, dan menjadi pemberi solusi saat bangsa buntu.
Ini adalah pengejawantahan dari jargon Fastabiqul Khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan untuk kemaslahatan umum.
Bertambah Usia sebagai Refleksi dan Aksi Gerakan
Milad ke-94 ini adalah waktu untuk kontemplasi dan evaluasi diri. Kita tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah masa lalu.
Masa depan bangsa membutuhkan pemuda yang berani melakukan “ijtihad” dalam berbagai lini kehidupan—baik di ranah politik, ekonomi, maupun sosial-budaya.
Dengan motto Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan), Pemuda Muhammadiyah harus terus bergerak melampaui batas-batas rutinitas organisasi.
Masa depan bangsa ada di tangan mereka yang hari ini berani bermimpi besar dan bertindak nyata.
Pilar Negarawan Muda: Kapasitas dan Integritas
Jalan kenegarawanan tidak bisa ditempuh dengan tangan kosong. Ada dua bekal utama yang harus terus diasah oleh kader Pemuda Muhammadiyah di momentum Milad ke-94 ini.
Integritas Moral sebagai gerakan Islam, moralitas adalah jangkar utama. Di tengah krisis keteladanan, Pemuda Muhammadiyah harus muncul sebagai role model anak muda yang jujur, amanah, dan memiliki karakter yang kuat. Negarawan adalah mereka yang perkataannya selaras dengan perbuatannya.
Kapasitas Intelektual Dunia hari ini digerakkan oleh disrupsi teknologi dan ekonomi berbasis pengetahuan. Kenegarawanan tanpa kapasitas hanya akan menjadi retorika.
Kader Pemuda Muhammadiyah harus mengisi pos-pos strategis bangsa—baik di birokrasi, ekonomi, sains, maupun sosial-budaya—dengan kompetensi yang mumpuni.
Kita tidak hanya butuh pemuda yang pandai berorasi, tapi pemuda yang mampu mengeksekusi solusi bagi kemiskinan, ketimpangan, dan kebodohan.
Menuju Indonesia Emas 2045 dengan Khidmat Muhammadiyah
Milad ke-94 ini adalah pemanasan menuju satu abad Pemuda Muhammadiyah dan menyongsong Indonesia Emas 2045.
Jalan kenegarawanan yang ditegaskan hari ini akan menjadi pondasi bagi kepemimpinan nasional di masa depan.
Pemuda Muhammadiyah harus tetap setia pada khitahnya sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar.
Kenegarawanan Muhammadiyah adalah kenegarawanan yang inklusif; yang merangkul semua elemen bangsa tanpa kehilangan jati diri keislamannya.
Kita adalah pemuda yang bangga dengan identitas Islamnya, namun di saat yang sama, paling depan dalam menjaga keutuhan NKRI.
Seperti pesan Jenderal Soedirman—salah satu kader terbaik Muhammadiyah: “Janganlah kamu berbuat seperti air di atas daun talas, tidak mempunyai pendirian yang tetap.” Mari kita tegakkan pendirian kita di jalan kenegarawanan demi Indonesia yang lebih bermartabat.
Selamat Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah. Mari terus bertumbuh, mengakar kuat dalam nilai, dan menjulang tinggi dalam pengabdian untuk Indonesia Raya yang maju, berdaulat, dan bermartabat. ***
BANGGA JADI KADER
Fastabiqul Khairot
Penulis adalah Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sumedang dan Dosen STEBIS Muhammadiyah Sumedang







