Pemkab Sumedang Tingkatkan Kewaspadaan Kekeringan dan Karhutla Jelang Puncak Kemarau 2026

oleh
Petugas dari UPTD PKP Paseh saat melaksanakan monitoring antisipasi dampal El Nino di blok Beubeudahan, Desa Paseh Kidul, Kecamatan Paseh bersama gapoktan,Ketua kelompok Tani dan masyarakat Desa Paseh Kidul.

BERITA SINGKAT

  • Pemkab Sumedang meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026.
  • BMKG memprediksi puncak kemarau terjadi pada Agustus dengan kondisi lebih kering dan panjang.
  • Bupati Sumedang menerbitkan surat edaran antisipasi kekeringan dan karhutla.
  • Desa dan kelurahan diminta menyiapkan SOP evakuasi serta logistik darurat.
  • Petani diimbau menyesuaikan pola tanam dan menggunakan benih tahan kekeringan.

RADARSUMEDANG.id – Memasuki musim kemarau tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Sumedang mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Langkah tersebut dilakukan menyusul prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dengan karakteristik lebih awal, lebih kering, dan berlangsung lebih panjang dibanding biasanya.

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir mengatakan, pemerintah daerah telah menerbitkan Surat Edaran Bupati Nomor 40 Tahun 2026 tentang Antisipasi Menghadapi Musim Kemarau dan Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2026.

“Seluruh jajaran pemerintah daerah hingga tingkat desa harus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau tahun ini. Potensi kekeringan dan kebakaran harus diantisipasi sejak dini agar dampaknya tidak meluas,” kata Dony kepada sejumlah awak media, Kamis (14/5/2026) di PPS.

Dalam surat edaran tersebut, pemerintah daerah menekankan pentingnya penguatan sistem kewaspadaan dini dengan mengaktifkan peran RT/RW, relawan desa hingga Linmas.

Penyebaran informasi diminta dilakukan secara cepat melalui grup WhatsApp desa atau kelurahan, kentongan serta pos pantau warga dengan tetap menerapkan sistem informasi satu pintu agar tidak menimbulkan simpang siur informasi di masyarakat.

Selain itu, setiap desa dan kelurahan diminta menyiapkan rencana tindak cepat penanggulangan bencana, mulai dari penunjukan penanggung jawab kebencanaan, penyusunan SOP evakuasi sederhana, penentuan lokasi pengungsian sementara hingga kesiapan logistik darurat seperti air bersih, makanan dan perlengkapan P3K.

Dony juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan bencana berskala kecil, terutama kebakaran lahan maupun kebakaran sampah yang berpotensi menjadi pemicu karhutla lebih besar saat kondisi cuaca kering ekstrem.

“Jangan remehkan bencana kecil. Kebakaran kecil bisa menjadi tanda awal yang harus segera ditangani melalui langkah pencegahan dan pelaporan cepat disertai dokumentasi lapangan. Karena berdasarkan pengalaman, puntung rokok kemudian pembakaran kecil-kecilan tanpa sekat bakar, gesekan kecil dari rumput ilalang bisa menjadi potensi kebakaran,” ungkap Dony.

Koordinasi lintas sektor juga menjadi perhatian utama. Para camat diminta menjadi komandan koordinasi wilayah dengan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, puskesmas, relawan hingga tokoh masyarakat dalam penanganan kebencanaan di lapangan.

Pemerintah daerah juga meminta seluruh pihak mengutamakan keselamatan warga, khususnya kelompok rentan seperti lansia, balita dan penyandang disabilitas dalam setiap proses evakuasi maupun penanganan darurat.

Di sektor pertanian, musim kemarau panjang diperkirakan berdampak terhadap produktivitas lahan pertanian masyarakat. Berkurangnya ketersediaan air irigasi berpotensi menyebabkan penurunan hasil panen bahkan gagal panen apabila tidak diantisipasi sejak awal.

“Kami meminta petani mulai menyesuaikan pola dan jadwal tanam sesuai kondisi cuaca. Penggunaan varietas benih yang lebih tahan kekeringan juga dianjurkan guna menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman musim kemarau panjang,” ucapnya.

Selain ancaman kekeringan, meningkatnya suhu udara dan minimnya curah hujan juga dinilai dapat memicu meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah perbukitan dan lahan kering yang rawan terbakar saat musim kemarau.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, patroli pencegahan kekeringan dan karhutla akan ditingkatkan dengan melibatkan masyarakat, aparat desa, relawan hingga unsur keamanan.

Di akhir keterangannya, Dony mengimbau masyarakat mulai mengisi embung dan tempat penampungan air sebagai cadangan kebutuhan selama musim kemarau berlangsung.(jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.