BERITA SINGKAT
- Warga Wado temukan batu unik berbentuk tak biasa di Kampung Galudra.
- Diduga batu merupakan hasil proses alami dari material vulkanik atau sedimen.
- Bentuknya sempat dicurigai sebagai artefak karena terlihat simetris.
- Disparbudpora Sumedang dorong kajian ilmiah bersama akademisi.
- Temuan diyakini berpotensi memperkaya sejarah dan wisata Sumedang.
RADARSUMEDANG.id, WADO – Warga Kampung Galudra, Desa Ganjaresik, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, menemukan batu unik dengan bentuk tak biasa pada Januari 2026 lalu. Temuan tersebut kini menjadi perhatian karena diduga bukan artefak, melainkan hasil proses alam.
Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang menyebut batu tersebut memiliki karakteristik yang tidak lazim, sehingga memicu rasa penasaran.
Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Sumedang, Moch. Budi Akbar, mengatakan batu tersebut memiliki bentuk menyerupai silinder dengan lekukan berlapis yang cukup unik.
“Batuan ini kemungkinan merupakan jenis sedimen atau vulkanik yang umum ditemukan di wilayah Sumedang. Proses pelapukan bisa menghasilkan tekstur berlapis seperti kulit bawang,” kata Budi saat dikonfirmasi, Minggu (29/3/2026).
Ia menjelaskan, wilayah kaki Gunung Cakrabuana dikenal memiliki material vulkanik tua, sehingga bentuk batu yang tampak tidak biasa masih dapat dijelaskan secara alami.
Meski demikian, sempat muncul dugaan bahwa batu tersebut merupakan artefak buatan manusia, mengingat bentuknya terlihat cukup simetris dan memiliki bagian menyerupai “leher” atau cekungan.
“Kalau memang buatan manusia, biasanya ada bekas pahatan atau goresan yang teratur. Namun permukaannya masih terlihat kasar dan tidak menunjukkan bekas pahat yang jelas, sehingga belum bisa disebut artefak,” ujarnya.
Berdasarkan pengamatan sementara, pihaknya lebih cenderung menyimpulkan batu tersebut merupakan hasil proses alami akibat pelapukan dan erosi dari batuan vulkanik atau sedimen.
“Batu ini ditemukan di sekitar makam Prabu Kemuning di Kampung Galudra. Temuan ini tentu menarik dan bisa berdampak pada pengembangan ilmu pengetahuan,” ungkapnya.
Untuk memastikan asal-usul batu tersebut, Disparbudpora Sumedang berencana menjalin kerja sama dengan kalangan akademisi, khususnya dari bidang Teknik Geologi dan Fakultas Ilmu Budaya.
“Kami ingin mengetahui apakah ini benar-benar bentukan alam atau ada campur tangan manusia. Apalagi kawasan ini dulunya merupakan tempat pendidikan para raja di Sumedang dan terdapat berbagai petilasan,” jelasnya.
Budi juga menyebutkan, sebelumnya pihaknya pernah menemukan batu unik lain berbentuk menyerupai biksu dengan aksara Cina yang dapat memancarkan warna hijau saat disinari, menyerupai batu giok.
Ia meyakini, jika berbagai temuan tersebut dapat dikaji secara ilmiah, maka berpotensi menjadi daya tarik baru bagi wisata dan penelitian sejarah di Sumedang.
“Kalau ini terungkap dan mendapat perhatian dari berbagai disiplin ilmu, saya yakin bisa menjadi magnet untuk menarik orang datang ke Sumedang,” pungkasnya.
(jim)





