Gedung Pasifik Bakal Disulap Jadi Outlet

oleh

RADARSUMEDANG.ID – Salah satu bangunan bersejarah di Kabupaten Sumedang yakni, Gedung Pasifik saat ini sedang dilakukan renovasi.

Bangunan yang dikenal dengan nama bioskop Pasifik ini kini sudah tertutup oleh pekerjaan pembangunan.

Padahal konon katanya bangunan tersebut merupakan salah satu cagar budaya yang mestinya dipertahankan karena mengandung nilai seni yang tinggi.

Menurut informasi yang diterima Radar Sumedang, Gedung Pasifik akan digunakan sebagai salah satu outlet merk pakaian ternama. Bahkan musisi Ariel Noah diketahui menjadi salah satu Brand ambassador merk pakaian tersebut.

Menanggapi akan hal itu Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbupora) Kabupaten Sumedang, Hari Tri Santosa mengatakan bahwa pekerjaan proyek yang sedang dilakukan di Gedung Pasifik tanpa sepengetahuan pihak Pemerintah Kabupaten Sumedang.

“Kemarin kami sudah cek ke gedung Pasifik. Setelah dikonfirmasi, saat ini sedang dilaksanakan rehabilitasi Bangunan Gedung Pasifik yang dikelola oleh PT. JASWITA. Gedung itu akan dialih fungsikan menjadi tempat penjualan salah satu merk pakaian oleh CV. BIENSI,” kata Hari saat dikonfirmasi Radar Sumedang via sambungan WhatsApp, Selasa (14/6).

Atas dasar itu, Disparbupora lanjut Hari telah berkirim surat yang ditujukan kepada Disparbud Provinsi Jawa Barat untuk mengkonfirmasi kegiatan proyek rehabilitasi gedung Pasifik.

“Iya sehubungan hal tersebut, kami sampaikan laporan sekaligus permohonan arahan dan petunjuk. Mengingat, Gedung Pasifik merupakan aset Provinsi Jawa Barat,” ujarnya.

Disamping itu pula lanjut Hari, menurut penilaian Disparbupora Kabupaten Sumedang, Gedung Pasifik dapat diaplikasikan sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB).

“Yang dimaksud dengan ODCB itu syaratnya, gedung berusia lima puluh tahun lebih dan memiliki masa gaya paling singkat berusia lima puluh tahun. Kemudian gedung memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, agama dan atau Kebudayaan. Terakhir memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa,” paparnya.

Terpisah dimintai tanggapannya, Ketua Komunitas Sumedang Heritage, Ahmad Dahlan mengaku sangat menyayangkan adanya upaya sejumlah pihak yang membuat Gedung Pasifik tak lagi nampak nilai historisnya.

Ia pun mempertanyakan mengapa Pemkab Sumedang tidak memasukkan Gedung Pasifik sebagai ‘Cagar Budaya’. Mengingat sepengatahuan dirinya, status Gedung Pasifik masih abu-abu kendati sudah menjadi aset Pemprov Jabar.

“Sudah cukup beberapa waktu lalu Gedung Pasifik dijadikan tempat karaoke, kemudian disegel. Sekarang Gedung yang dibangun tahun 1928 itu enggak kelihatan sama sekali karena tertutup seng,” kata Dahlan ditemui Radar Sumedang di salah satu bangunan bersejarah milik BUMN Pertani.

Dahlan menyebutkan, adanya renovasi di Gedung Pasifik untuk outlet pakaian itu akibat sikap pemerintah yang tidak bertindak cepat. Padahal sekitar tahun 2011 gedung itu sempat menjadi Gedung kesenian atau gedung pertunjukan.

“Harusnya ikuti spirit Sumedang sebagai pusat budaya alias gedung itu harus berhubungan dengan nuansa tempo dulu. Sekarang kan setelah ramai baru muncul sikap dari Disparbupora. Lebih lagi kita juga enggak tahu bangunan itu statusnya apa, kalau iya ada perubahan pasti melanggar, dan itu ada konsekuensinya,” sebut Dahlan seraya menyebut ada kontrak panjang antara PT. Jaswita dengan pihak ketiga selama 14 tahun.

Dengan demikian, dirinya berharap agar Salah satu bangunan bersejarah di Kabupaten Sumedang itu tidak lagi menjadi polemik di kalangan masyarakat. (jim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.