RADARSUMEDANG.id, BANDUNG- Perbankan melesu selama pandemi COVID-19. Penyaluran kredit yang terhambat menjadi salah satu faktor penyebabnya. Perbankan pun dituntut untuk melakukan efisiensi untuk bertahan dan bangkit di tengah pandemi COVID-19.
Demikian dikatakan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran (Unpad) Nanny Dewi dalam Dialog Online Recovery Center yang digelar Komite Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Daerah (KPED) Jabar, Rabu (29/12/2021) malam WIB.
Menurut Nanny, penyaluran kredit selama pandemi cenderung flat. Jika ada pertumbuhan, jumlahnya pun tidak besar. Hal tersebut, katanya, disebabkan oleh dua faktor utama. Faktor pertama, permintaan kredit dari dunia usaha belum cukup tinggi.
“Artinya, dunia usaha juga masih wait and see. Melihat kondisi pandemi yang belum menunjukkan kapan akan berakhirnya. Sehingga permintaan kepada kredit tidak terlalu tinggi,” kata Ketua Program Studi Magister Akuntansi FEB Unpad ini.
Faktor kedua, kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit. Nanny menuturkan, perbankan tetap melakukan kebijakan prudential. Hal itu membuat perbankan menahan pencairan kredit sampai kondisi benar-benar stabil.
“Kenapa perbankan masih sangat berhati-hati? Karena kredit macetnya masih tinggi, di atas 3 persen. Meskipun di September agak menurun, dari 3,55 ke 3,22 persen. Tapi, ini kondisinya masih sangat tinggi,” katanya.
“Banyak dunia usaha yang mengalami problem di dalam penyelesaian kewajiban kreditnya. Ini juga yang mengakibatkan perbankan jadi berhati-hati dalam penyaluran kreditnya,” imbuhnya.
Selain itu, Nanny mengatakan bahwa dana dari pihak ketiga masih terus naik. Kondisi itu menandakan bahwa masyarakat tidak mau spending dan lebih banyak menyimpan dananya di bank.
“Dan kalau enggak ada spending, demand terhadap barang dan jasa menjadi berkurang… Tentunya bisnis dari nasabah perbankan ini masih terkonstraksi,” kata Nanny.
Kondisi tersebut tentu dapat menghambat pemulihan ekonomi. Karena, kata Nanny, perbankan merupakan salah satu bagian perekonomian yang memiliki fungsi dan tugas dalam pemulihan ekonomi. Oleh karena itu, perbankan harus dilindungi selama pandemi COVID-19.
“Bank adalah bagian dari perekonomian dan bank termasuk usaha yang juga harus dilindungi selama masa pandemi ini. Bukan hanya dunia usaha saja, bisnis perbankan pun sama-sama harus dilindungi supaya kita bisa memastikan perbankan bisa menjalankan fungsinya dengan baik,” ucapnya.
Sedangkan Mokhamad Anwar menuturkan bahwa perbankan di Indonesia intens melakukan efisiensi. Hal itu dilakukan agar bank mampu bertahan di tengah ketidakpastian akibat pandemi COVID-19.
Ada banyak langkah efisiensi yang sudah dilakukan perbankan di Indonesia. Pertama, perbankan menerapkan work from home (WFH) bagi sebagian karyawan. “Jadi, ada yang masuk seminggu beberapa kali, ada sebagian di rumah dan masuk,” kata Anwar.
Kemudian, kata Anwar, banyak perbankan yang menutup sebagian kantor cabang. Dari dua atau tiga kantor cabang, misalnya, hanya satu kantor cabang yang beroperasi selama pandemi COVID-19. “Itu bukti bahwa yang dilakukan bank-bank ini adalah upaya-upaya efisiensi,” tuturnya.
“Yang ketiga tentu biaya operasional segera dilakukan efisiensi dibandingkan kondisi normal. Kondisi saat COVID ini membuat semua industri, termasuk industri perbankan, melakukan upaya-upaya efisiensi,” imbuhnya.
Selain ketiga langkah tersebut, kebijakan otoritas keuangan membuat kinerja perbaikan efisiensi perbankan terus membaik. Salah satunya, kebijakan Bank Indonesia (BI)-7 Day Reverse Top Rate yang membuat biaya dana perbankan menyusut.
Anwar pun memaparkan dua strategi perbankan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Pertama, melakukan optimalisasi pelaksanaan restrukturisasi kredit sehingga dapat menekan angka non-performing loans pada angka yang wajar.
“Kedua, menjalankan secara terus-menerus upaya efisiensi melalui efisiensi operasional melalui Digitalisasi Perbankan ataupun dengan upaya-upaya lain. Diharapkan juga biaya operasional perbankan akan turun,” ucapnya.
“Walau pada awalnya memerlukan biaya investasi, tapi pada akhirnya diharapkan akan mengalami penurunan dengan dilakukan upaya lainnya dengan kebijakan penutupan beberapa cabang. (Kantor) disentralkan di satu lokasi, walau pada akhirnya nanti akan kembali pada saat kondisi membaik,” tambahnya.(cwp)





