Ciptakan Teknologi Baru untuk Dunia Penerbangan ‘Hiber Tech’

oleh
oleh
IST TEKNISI: Muhammad Ihsan Ismail teknisi pesawat terbang asal Desa Citimun, Cimalaka saat mengoperasikan kabin pesawat di tempat kerjanya

RADARSUMEDANG.ID – Potensi gemilang yang dilahirkan generasi muda di Sumedang rasanya tak pernah mati. Setelah sebelumnya ada robot pelayanan di kantor Desa Citimun, Kecamatan Cimalaka, kini salah seorang pemuda dari desa yang sama menciptakan teknologi baru untuk dunia penerbangan.

 

Teknologi itu tercipta dari buang tangan Muhammad Ihsan Ismail (27), asal Dusun Citimun RT 03/01, Desa Citimun. Berawal dari kecintaannya terhadap dunia penerbangan dan termotivasi saudaranya yang menjadi Anggota TNI Teknisi Pesawat, ditambah mempunyai minat terhadap elektronik.

 

Keluarga Ihsan menyarankan agar dirinya masuk di sekolah penerbangan. “Saya masuk kuliah di Jurusan Elektronik Penerbangan, berawal dari riset untuk kebutuhan skripsi dan membantu skripsi teman-teman kuliah juga saya mulai fokus dan menyukai dunia penerbangan,” kata Ihsan ditemui wartawan di tempat kerjanya.

 

Setelah kuliah, dari situ Ihsan mulai bekerja di Flight Lituania Cabang Indonesia, sebagai Teknisi Avionics, dari Bulan Januari 2020 hingga Juli 2021. Kemudian berbekal pengalaman kerja, mulai terinspirasi membuat alat-alat kebutuhan penerbangan.

 

Untuk saat ini Ihsan membangun perusahaan sendiri yang diberi nama ‘Hiber Tech’ yang fokus di produk inovasi teknologi. Mulai dari produk elektronik penerbangan dan teknologi lainnya yang berbasis elektronik.

 

Selain inovatif, teknologi yang diciptakan oleh Ihsan juga disebut-sebut menjadi pertama dan satu-satunya di Indonesia. Adapun perusahaan yang dibangun Ihsan menyediakan jasa reparasi elektronik, terutama barang-barang elektronik penerbangan.

 

“Pernah waktu itu ditawari juga untuk kerja di luar negeri dengan gaji fantastis hingga puluhan juta. Tapi saat ini saya masih fokus dengan Hiber Tech,” ujarnya.

 

Ihsan menyebutkan, beberapa produk yang sudah dibuat. Mulai dari produk sesuai permintaan klien maupun produk yang ia buat atas dasar idenya sendiri untuk dipasarkan.

 

“Pertama, Air Data Tester, alat untuk menguji indikator ketinggian dan kecepatan pesawat yang harganya Rp. 35 juta. Kemudian multi temperatur tester, alat untuk menguji indikator temperatur pesawat, yaitu Exhaust Gas Temprature dan Turbin Outlet Temprature dengan harga Rp. 25 juta,” sebut Ihsan

 

Produk tersebut, kata Ihsan, dibuat untuk menguji indikator pesawat terbang didarat, juga berguna untuk mengetahui sejauh mana fungsi indikator pesawat sebelum diterbangkan.

 

“Jadi sebelum pesawat itu diterbangkan, harus diuji dulu, alat-alanya berfungsi apa tidak, nah di ujinya kan tidak saat terbang, tapi harus didarat, caranya pakai alat itu,” imbuh Ihsan.

 

Termasuk dalam hal ini ada sebuah alat indikator yang dipasang langsung di pesawat terbang untuk mengetahui sikap dan arah pesawat.

 

“Pertama Attitude indikator, adalah alat untuk mengetahui sikap pesawat saat terbang. Dengan alat ini pilot bisa mengetahui kapan saat pesawat naik, turun atau belok dan harganya Rp 12 juta. Kedua heading indikator yaitu alat untuk mengetahui arah kepala pesawat menghadap kemana sehingga dengan alat ini, pilot bisa mengetahui arah kepala pesawat apakah menghadap ke barat, timur, utara atau selatan),” paparnya.

 

Selain itu juga, untuk kebutuhan akademik, Ihsan mampu membuat alat simulator Kokpit pesawat terbang. Kokpit sendiri adalah sebuah ruangan khusus yang biasanya terdapat di bagian depan pesawat yang dari dalamnya pilot bisa mengendalikan memonitor pesawat terbang melalui layar visual.

 

“Jadi dengan alat ini, para akademisi bisa mempelajari beberapa instrumen pesawat terbang tanpa harus menerbangkan pesawat, mempelajari secara teknis tentang Elektronik Flights Instrumen Sistem (EFIS). EFIS ini erfungsi untuk menampilkan secara visual melalui layar monitor seperti pada Kokpit pesawat,” ucapnya.

 

“Jadi dengan alat ini, dunia pendidikan tidak perlu membeli pesawat terbang untuk mempelajari sistem elektronik pesawat. Cukup dengan alat simulator ini, mahasiswa atau pelajar bisa belajar sistem elektronik pesawat, tanpa harus menerbangkan pesawat, tapi cukup di darat diruang kelas,” tambahnya.

 

Terakhir disampaikan Ihsan, dirinya juga sudah membuat produk diluar penerbangan, diantaranya robot penyambut tamu (Contoh di Kodim 0610/Sumedang), bending besi elektrik, pemotong kabel otomatis, drone fixed wing (aeromodelling), mini lift rumah, dan lainnya.

 

Bahkan selain pembuatan alat dirinya juga menerima jasa reparasi barang elektronik pesawat terbang. “Yang sudah menjadi klien TNI AU, AL, AD, FASI, pemerintahan desa, swasta, dan lainnya,” jelas Ihsan. (jim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.