Dewan Soroti Mahalnya Tarif Tol Cisumdawu Mengancam Stabilitas Ekonomi

oleh
oleh
PANJI/RADARSUMEDANG.ID H. Sidik Jafar

RADARSUMEDANG.ID – Anggota Komisi IV DPRD Sumedang Fraksi Partai Golkar, H. Sidik Jafar menyoroti mahalnya tarif tarif Tol Cisumdawu. Dirinya khawatir, penetapan tarif jalan tol akan mengancam stabilitas ekonomi di Kabupaten Sumedang, di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas).

 

“Memang betul jalan tol bisa memperlancar ekonomi. Akan tetapi kalau kita ambil tarif dari Sumedang ke Cileunyi Rp36.500, saya pikir terlalu tinggi,” kata Sidik Jafar kepada sejumlah awak media di Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Senin (3/4).

 

Selain itu lanjut dia, dengan tarif yang tinggi, maka dikhawatirkan akan mempengaruhi laju arus mudik pada lebaran 2023 nanti. “Saya khawatir arus mudik akan kembali ke jalur lama (Jalan Nasional). Bukan lewat tol karena menghindari tarif yang tinggi,” ujarnya.

 

Sebagai contoh, dirinya membandingkan bagaimana tingkat keramaian tol sebelum berbayar alias gratis dari Pamulihan sampai Cimalaka. “Justru menurut saya, ini memberatkan masyarakat dan pengusaha armada juga jadinya. Malahan sopir-sopir truk ada kesan lebih baik dibeliin bensin daripada bayar tol. Akhirnya mereka melalui jalur Cadas Pangeran,” sebut Sidik Jafar.

 

Oleh sebab itu Jafar mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Padahal, keberadaan tol diharapkan dapat mengurangi kemacetan dan menekan angka kecelakaan. Namun pada kenyataannya, masih belum menunjukan hasil yang maksimal.

 

Karenanya, Ketua DPD Partai Golkar Sumedang ini meminta kepada pemerintah untuk segera berkomunikasi dengan pihak pengelola Tol Cisumdawu agar bisa menyesuaikan tarif. Mengingat salah satu proyek strategis nasional (PSN) ini merupakan program jangka panjang yang seharusnya memberikan manfaat lebih terhadap masyarakat.

 

“Kami mohon pemerintah segera bicara dengan pengelola tol untuk melakukan penyesuaian. Contohnya ini bisa dibandingkan dengan jarak tol antara Sumedang-Cileunyi dengan Cileunyi-Padalarang. Disini harganya jauh berbeda dan ini memberatkan serta membebani masyarakat Sumedang,” pungkas Sidik Jafar. (jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.