Terdeteksi Sensor Panas Pemprov, Damkar dan Aparat Gabungan Diterjunkan ke TPAS Cibeureum

oleh
Tampak gambar udara, kabut asap menyelimuti TPAS Cibeureum. Kabut asap ini dikeluhkan warga lantaran menyebabkan sesak nafas dan mata pedih

RADARSUMEDANG.id, CIMALAKA – Dua unit mobil pemadam kebakaran diterjunkan guna mengatasi kepulan asap yang terjadi di tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) Cibeureum, Kecamatan Cimalaka, Sabtu (26/8). 

Kepulan asap yang cukup tebal itu akibat adanya beberapa api di dalam sekam gunungan sampah.

“Informasi awal kami terima sejak hari Kamis 24 Agustus, bahwa TPAS Cibeureum termonitor sensor panas milik Pemprov,” kata Kasi Pencegahan Bidang Damkar pada Satpol PP Sumedang, Enjang Supriadi.

Sejak hari itu sambung Enjang, pihaknya mengerahkan 1 unit pancar dan 1 water supply untuk memadamkan api agar kepulan asap hilang. “Untuk selanjutnya mudah-mudahan api bisa dikendalikan dan padamkan total,” ujarnya.

Enjang menuturkan, kendala yang dihadapinya yakni karena api berada di dalam tumpukan sampah, sehingga sulit terdeteksi posisi api. 

“Jadi tumpukan sampahnya itu harus dibongkar dulu supaya titik api dapat terlihat dan bisa disembur. Kalau disemburnya hanya dipermukaan itu tidak sampai ke titik apinya,” ucapnya.

Meski kepulan asap putih yang keluar sudah mulai berkurang, namun demikian petugas gabungan dari damkar, TNI, Polri, masih bersiaga di TPAS. “Dari total luas 10 hektare, yang terbakar sekitar 500 meter persegi,” imbuhnya. 

Dipastikan, lokasi kebakaran di TPAS jauh dari pemukiman warga, namun dekat dengan area Gunung Tampomas dan perusahaan tambang. 

“Kalau ke permukiman masih aman karena relatif jauh, jadi asap tidak sampai ke pemukiman,” imbuhnya.

Salah seorang pengepul sampah di TPAS Cibeureum, Jajang Supriatna (53) mengaku kondisi kebakaran sampah di TPAS tersebut terjadi tiap tahun saat musim kemarau. 

“Saya sudah 8 tahun di sini. Dari dulu juga seperti ini (kebakaran sampah). Tiap tahun pasti ada api, nggak tahu apinya dari mana,” katanya.

Meski sudah kerap terjadi, namun Jajang mengeluhkan kondisi tersebut, lantaran tebalnya asap membuat sesak nafas dan mata pedih. 

“Pedihnya bukan main, hidung perih mata pedih,” imbuhnya.

Pengepul sampah lainnya, Miftah juga merasakan hal yang sama. Menurutnya, api pertama kali muncul dari TPAS bagian bawah, sekitar 2 minggu lalu. “Pertama kali 2 minggu lalu, nggak tahu apinya dari mana,” ucapnya.

Kondisi kebakaran yang menimbulkan banyak asap membuat para pengepul sampah banyak yang batuk. 

“Apalagi ibu-ibu kalau lagi nyari rongsokan itu suka pada batuk, kena pernapasan, pada sesak, jadi kasihan,” tuturnya.

Lebih jauhnya dikatakan, akibat aktivitas mengais rongsokan terganggu, pendapatan mereka pun berkurang. 

“Saya sendiri biasanya 2 minggu itu dapat Rp2 juta, sekarang berkurang Rp1,5 juta. Jadi kami berharap kebakaran ini segera dipadamkan,” imbuhnya. (gun)

No More Posts Available.

No more pages to load.