RADARSUMEDANG.id, SUKASARI – Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat meresmikan Gedung Budaya Pencak Silat di wilayah Kiara Payung Desa Sindangsari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang, Jum’at (1/9).
Kegiatan peresmian tersebut dihadiri Anggota Komisi I DPR RI, Bupati Sumedang, DPRD Sumedang, Forkopimda Sumedang, pendekar silat Jawa Barat, Dinas terkait Provinsi Jawa Barat, aktor beladiri Iko Uwais serta pengusaha-pengusaha di Jawa Barat.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Prov Jabar, Indra Maha mengatakan, pembangunan padepokan tersebut dilakukan selama 4 bulan, dengan anggaran Rp 28,9 miliar.
“Dua minggu yang lalu, Pak Gubernur (Ridwan Kamil) datang kesini, dan memerintahkan kami (Dinas Perkim, Kadis Pora dan juga Kadisparbud Jabar) untuk membuat acara ini semeriah mungkin, awalnya beliau (Pak Gubernur) akan hadir, akan tetapi karena ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan sehingga batal datang,” ujar Indra kepada Radar Sumedang.
Indra menambahkan, Gubernur memberikan mandat kepadanya untuk membuka dan meresmikan bangunan ini. Diharapkan ini menjadi pusat pencak silat di seluruh indonesia.
“Gedung ini merupakan simbol dan komitmen pemerintah provinsi jawa barat dalam mengembangkan dan melestarikan pencak silat sebagai salah satu budaya bangsa, karena pencak silat memiliki nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keberanian dan kesetiakawanan, nilai tersebut sangat penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Indra saat membacakan sambutan Gubernur.
Menurutnya, di Jawa Barat setiap tanggal 12 Desember kerap diperingati sebagai hari Pencak Silat. Bahkan Unesco juga telah menetapkan pencak silat sebagai warisan budaya tak benda.
“Pencak silat merupakan warisan budaya yang harus terus dilestarikan. Seperti halnya alat musik angklung yang bisa mendunia. Pencak silat dapat menjadi etalase wajah kebudayaan dan pendidikan di Indonesia khususnya di Jawa Barat,” tambahnya.
Sebagai warga sunda, kata ia, harus bangga dengan budaya yang dimiliki, terlebih era disrupsi teknologi informasi, derasnya arus informasi budaya luar yang mengikis kecintaan terhadap budaya asli daerah. Orang sunda dibekali dengan nasehat silih asih, silih asah, silih asuh artinya kepada siapa saja mari kita saling mencintai, saling mengasihi dan saling mengucapkan hal-hal baik.
“Melalui gedung pencak silat ini, kita berharap lebih dapat mengembangkan dan melestarikan pencak silat di Jabar. Artinya gedung ini menjadi pusat kegiatan pencak silat seperti latihan, perlombaan, dan pembinaan,” ujarnya.
Gubernur mengajak kepada seluruh pendekar pencak silat di jawa barat untuk menjadikan gedung pencak silat ini sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan dan prestasi.
“Mari bersama-sama menjaga dan melestarikan pencak silat, sebagai warisan budaya bangsa yang adiluhung. Saya juga berharap agar atlet pencak silat jabar dapat terus berprestasi ditingkat nasional, maupun internasional dengan prestasi yang diraih pencak silat jawa barat bisa semakin dikenal dan diakui oleh dunia,” tandasnya.
Sementara itu, Iko Uwais memotivasi para atlet muda pencak silat yang hadir untuk terus berlatih, supaya bisa memperoleh prestasi dan menjadi kebanggaan keluarga, serta negara.
“Dulu saya hampir setiap hari berlatih dan berlatih, tanpa terpikirkan akan menjadi seperti ini, berkat kegigihan yang terus saya lakukan, hingga mengantarkan saya menjadi seperti ini,” ujarnya. (tha)







