RADARSUMEDANG.id, KOTA – Rukun Wargi Sumedang (RWS) mempertanyakan urgensi pernyataan Pj Bupati Sumedang, Herman Suryatman tentang kata ‘Pangeran’ kepada Bupati dan Wakil Bupati Sumedang periode 2018-2023 yang disampaikan saat memberikan sambutan pada acara Haul Pangeran Sugih, Sabtu (23/9/2023) kemarin di Alun-alun Sumedang.
Itu terungkap setelah adanya surat bernomor 010/S-CABANG/RWS/IX/2023 yang ditujukan kepada Ketua Kamandalaan tertanggal 25 September 2023. Dalam surat tersebut, sedikitnya ada empat poin yang dipersoalkan. Salah satunya berisi tentang protes keras kepada Herman Suryatman atas predikat pangeran di depan umum pada momentum istighosah di Alun-alun Sumedang, baru-baru ini.
Dalam poin terakhir itu, RWS mempertanyakan atas pernyataan Pj Bupati Sumedang di laman media sosial yang berdurasi 1.17 menit yang menyatakan adanya Pangeran Dony dan Pangeran Erwan.
“Berdasarkan hal itu, apakah pernyataan dan pengangkatan tersebut begitu mudahnya disejajarkan dengan leluhur kami yang dimuliakan,” begitu isi penggalan kalimat pada poin terakhir surat tersebut.
Atas dasar itu saat ini RWS beserta jajarannya telah diterima oleh sejumlah anggota DPRD Kabupaten Sumedang guna menindaklanjuti persoalan ini.
Di tempat terpisah, Pj Bupati Sumedang Herman Suryatman menyebutkan, bahwa kata ‘Pangeran’ dimaksud adalah kiasan atau makna konotatif (untuk menggugah rasa), bukan makna denotatif (makna sebenarnya).
Yang mana pada pernyataan itu, yang dimaksud adalah dalam konteks keberlanjutan kepemimpinan Sumedang.
“Saya sampaikan bahwa pada masa lalu Sumedang memiliki pemimpin yang membanggakan seperti Pangeran Sugih, Pangeran Kornel dan Pangeran Mekah. Kita harus mengambil spirit dari kepemimpinan Pangeran Sumedang serta mengadaptasikannya dengan tantangan masa kini. Jadi kata ‘Pangeran’ tersebut disampaikan dalam konteks kepemimpinan untuk menggugah rasa (memotivasi), bukan pengertian sebenarnya sebagai gelar keturunan raja,” sebut Herman dalam keterangan persnya, Selasa (27/9/2023).
Herman mencontohkan ada kiasan atau kata yang menggugah, seringkali kita mendengar julukan ‘Pangeran Biru’ sebagai kiasan atas kebanggaan kita kepada Tim Sepak Bola Kesayangan Persib. Ada juga kata ‘Cadas Pangeran’, yakni nama jalan di Sumedang yang mengabadikan perjuangan Pangeran Kornel dalam pembangunannya.
Selain itu, saat ini Sumedang telah menorehkan berbagai prestasi sebagai kabupaten dengan kinerja pemerintahan terbaik tingkat Provinsi Jabar maupun Nasional di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati periode 2018-2023.
“Jadi yang dimaksudkan ‘Pangeran’ disana adalah kepemimpinan Bapak Dony dan Bapak Erwan yang membanggakan laksana pangeran,” ujarnya.
Karenanya ditegaskan Herman, tidak ada maksud membanding-bandingkan antara kepemimpinan para Pangeran Sumedang dengan kepemimpinan masa kini, tetapi mempersandingkan. Karena hakekat kepemimpinan adalah estafet keberlanjutan dan perbaikan terus-menerus (continuous improvement).
“Jangan sampai kita terjebak pada romantisme masa lalu. Haul Pangeran Sugih, harus kita tempatkan sebagai media untuk mendoakan, serta momentum untuk mengambil spiritnya sebagai bekal bagi peningkatan kualitas kepemimpinan masa kini dan kedepan,” tukas Herman.
Terakhir Herman menyampaikan permohonan maaf, apabila ada salah paham atas pernyataan ‘Pangeran’ tersebut.
“Dari lubuk hati terdalam saya menyampaikan permohonan maaf. Sebagai Penjabat Bupati Sumedang, saya tidak punya maksud lain kecuali memotivasi dan menginspirasi masyarakat agar kita mampu meneladani kepemimpinan Pangeran Sumedang,” katanya. (jim)







