RADARSUMEDANG.id, KOTA — Psikolog Sumedang, Ayuna Haziza, S. Psi, mengaku miris dengan fenomena demi fenomena perundungan yang terjadi di kalangan remaja usia sekolah.
Bahkan yang terbaru, sebagaimana diketahui di Cilacap seorang bocah tingkat SMP menjadi korban perundungan secara brutal oleh kakak kelasnya.
“Miris sekali karena kasus seperti ini bukan pertama kalinya di Indonesia, baik itu di tingkat SMP sederajat maupun SMA sederajat. Bahkan sampai kelas bawah sudah marak melakukan perundangan kepada teman-temannya,” kata Ayuna Haziza dalam keterangan persnya, Senin (2/9).
Kata dia, sulit rasanya jika berbicara siapa yang salah dalam fenomena bullying yang dilakukan secara brutal. Baik dari pihak orang tua, tenaga pendidik sampai kepada pemerintah.
Kalau berbicara salah siapa baik orang tua yang tidak bisa menjaga keharmonisan keluarga, tidak adanya keterlibatan orang tua tentang pola asuh anak kemudian masyarakat menyalahkan pemerintah atau sebaliknya saya pikir bukan itu yang kita lakukan.
“Kita bukan mencari siapa yang salah apalagi sampai menghakimi, mengutuk, memarahi bukan solusi. Kita sebagai bagian dari masyarakat, pandangannya seolah-olah anak itu tidak punya adab, tidak punya empati, tidak punya hati nurani sehingga melakukan perundungan secara brutal terhadap teman-temannya. Lalu kemana nilai-nilai moral agama hilang, apa yang sudah diajarkan orang tua selama ini, apakah memang orang tua hanya sibuk mencari nafkah, mencukupi anak dengan materi atau apa,” ujarnya.
Karenanya, kiranya tidak pantas kalau menyalahkan orang tua sepenuhnya, kemudian menyalahkan gadget. Sebab yang paling penting bagaimana menerapkan aturan saat anak memainkan gadget.
“Hadirlah kita dalam tumbuh kembang anak, di setiap permasalahan yang dihadapi anak. Jangan-jangan kita sendiri yang membuat anak lemah sehingga menimbulkan agresi yang menyebabkan terjadi contoh yang tidak baik bagaimana memperlakukan orang lain. Saya sampai bingung harus mulai dari mana mengahadapi persoalan perundungan brutal yang menggunakan kontak fisik supaya setidaknya mengurangi,” ucapnya.
Selain itu dirinya yang biasa memfasilitasi korban perundungan ini juga mengatakan bahwa dampak psikologis perilaku perundungan terkadang akan terbawa sampai dewasa sehingga menganggu kehidupan masa depan korban.
Oleh sebab itu perlu adanya pembenahan diri kita sendiri, harus bisa mengambil peran sekecil apapun untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi angka perundungan di sekolah sehingga ambilah peran sesuai porsi masing-masing.
Seorang ibu kembalikan posisinya di rumah yang penuh kasih dan mendidik anak menjadi punya empati dan masih sayang sehingga anak mempunyai kontrol emosional yang baik juga nilai Budi pekerti yang baik.
Seorang ayah berperan sebagai ayah yang baik yang bertanggungjawab yang menjadikan anaknya kuat secara lahir dan batin. Kemudian dapat menjadikan anaknya patuh terhadap peraturan dan juga rasa empati tinggi untuk menolong teman-temannya.
Begitu pun seorang guru, diharapkan menjadi guru yang baik, pantas digugu dan ditiru yang membawa generasi ke depan ini menjadi lebih baik. Ataupun berbagai profesi bisa memulai dari yang terkecil yang bisa kita lakukan.
“Jangan sampai membiarkan bibit-bibit bullying ini terjadi di dalam keluarga kita rumah kita juga terhadap anak-anak kita. Jangan pernah memberikan contoh yang tidak baik berkata kasar kepada pasangan atau anak di dalam rumah, apalagi sampai kekerasan terhadap siapapun. Karena disitu anak akan meniru perilaku yang kita lakukan sehingga ini menjadi tanggung jawab bersama,” sebut Ayuna Haziza.
Dengan demikian fenomena perundungan, bullying sampai kekerasan terhadap anak tidak bisa sepihak oleh instansi atau dinas. Karena pada prinsipnya semua orang bertanggungjawab atas tindakan bullying yang semakin hari semakin parah bahkan semakin lama semakin mengkhawatirkan.
“Saya mengajak semuanya termasuk insan pers bijaklah dalam memposting berita, tutupi wajah anak yang jadi korban ataupun pelaku, jangan menggiring opini publik ke arah yang tidak benar. Kita semua bisa berperan mulai dari saat ini mudah-mudahan kalau kita memberi peran sekecil apapun dalam kasus perundungan bullying atau apapun itu. Atau setidaknya akan berkurang atau lebih bagusnya menghilang dari muka bumi ini,” katanya. (jim)







