RSUD Sebut Ibu Hamil yang Meninggal dalam Persalinan Alami Eboli Air Ketuban

oleh
Manajemen RSUD Sumedang menyampaikan kronologi penanganan persalinan ibu hamil yang meninggal di RSUD

RADARSUMEDANG.ID, KOTA — Plt Direktur RSUD Sumedang, dr. H Enceng mengatakan awal mula pasien Ny. MM datang ke IGD RSUD pada hari Sabtu (23/9/2023) sekitar jam 20.00 WIB.

Yang mana pasien MM didiagnosis dengan G2P1A0 hamil 40-41 minggu + kalsifikasi plasenta dan direncanakan akan diakhiri masa kehamilannya. Mengingat pasien MM dikirim oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan dikarenakan hamil 9 bulan lebih (40-41 minggu). Namun pada saat itu, diketahui belum ada tanda-tanda akan melahirkan.

“Penanganan pasien sudah dilakukan sesuai prosedur, pasien direncanakan melahirkan per vaginam dengan ‘tindakan induksi’ (merangsang timbulnya reaksi kontraksi) agar timbul kontraksi (mules) tanda kelahiran,” kata dr. Enceng saat dikonfirmasi sejumlah awak media di RSUD Sumedang, Selasa (3/10/2023).

Dari situ lanjut Enceng, pada hari minggu proses persalinan mengalami kemajuan ditandai dengan pembukaan sudah lengkap sehingga pasien dipimpin proses persalinan.

Namun pada perjalanannya, pasien mengalami penurunan kondisi fisik yang dicurigai disebabkan oleh emboli air ketuban. Yang mana, emboli air ketuban merupakan sindrom katastrofik yang terjadi selama kehamilan dan persalinan atau segera setelah melahirkan.

“Emboli air ketuban adalah peristiwa masuknya air ketuban yang mengandung sel-sel janin dan material debris lainnya ke dalam sirkulasi maternal, yang menyebabkan kolaps kardio respirasi sehingga patofisiologi-nya sampai saat ini belum jelas,” sebut Enceng.

Kendati demikian diterangkan Enceng, ada tiga faktor utama yang menyebabkan masuknya air ketuban ke dalam sirkulasi.

Pertama robekan amnion dan korion, kedua terbukanya vena ibu balk melalui vena-vena endoserviks, sinus venosus subplasenta atau akibat laserasi segmen bawah rahim, dan ketiga adanya tekanan.

“Sedangkan penyebab kematian, belum dapat dipastikan. Namun besar kemungkinan, berdasarkan jurnal yang kami dapatkan yang diterbitkan oleh bagian anastesi akibat emboli air ketuban,” terangnya.

Enceng juga mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan belasungkawa dan menerima masukan secara langsung. Mengingat hal ini sangat penting bagi RSUD kedepannya terkait dengan perbaikan pelayanan.

“Banyak hal yang saya bicarakan. Karena memang resiko medis bisa terjadi di rumah sakit mana pun sehingga kita terus berupaya menekan angka kematian ibu dan bayi dalam proses persalinan,” tuturnya.

Termasuk dalam hal ini sambung Enceng, mengenai petugas-petugas yang di IGD untuk kepesertaan BPJS perihal pelayanan di IGD atau di PONED sudah menjadi catatan untuk evaluasi di tataran internal sehingga pelayanan hospitality harus lebih ramah dan lebih empati.

“Sebetulnya kami sudah mencanangkan untuk program someah (senyum, profesional, empati, agamis dan humanis). Akan tetapi karena program ini belum semuanya bisa melaksanakan,” imbuhnya.

Terkahir disampaikan Enceng, dalam waktu dekat akan ada mediasi antara pihak dokter juga bidan yang menangani pasien MM.

“Jadi tinggal satu hal yang belum terpenuhi yaitu dokter dan bidan yang menangani. Jadi tentunya dalam kondisi sekarang masih dalam suasana duka. Kami bekerjasama dengan aparat pemerintah desa setempat agar memediasi waktu dan tempat karena dokter dan bidan sudah bersedia,” jelas Enceng. (jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.