RADARSUMEDANG.id, SITURAJA – Kepala Sekolah SMPN 1 Situraja, Iis Timiyati, ikut menyoroti banyaknya kasus perundungan yang terjadi di sejumlah sekolah baru-baru ini, menjadi fenomena yang harus disikapi serius oleh pihak sekolah. Menurutnya kasus perundungan lebih disebabkan oleh karakter anak didik yang belum terbentuk ke arah positif.
“Untuk mengatasi fenomena perundungan yang dilakukan siswa di lingkungan sekolah, kami menekankan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter siswa,” kata Iis, saat mengawali kegiatan Workshop Pengembangan Perangkat Pembelajaran Terdiferensiasi Kurikulum Merdeka di Aula SMP Negeri 1 Situraja, Senin (2/10).
Adapun salah satu program yang berorientasi pada pembentukan karakter, pihaknya menerapkan program Spensasi Mekar Berseri (SMPN 1 Situraja Membina Karakter, Berliterasi, Sehat dan Relijius).
“Sebelum marak terjadinya perundungan di lingkungan sekolah kami sudah melakukan pembiasaan keagamaan, untuk pembentukan karakter siswa dan menekankan pengajar untuk terus mendampingi siswa selama di sekolah,” tuturnya.
Disamping itu, untuk meminimalisir potensi-potensi perilaku negatif pada siswa, pihak sekolah memadatkan kegiatan-kegiatan yang harus diikuti oleh siswa di lingkungan sekolah.
“Dengan banyak kegiatan maka anak-anak bisa menghindari pengaruh-pengaruh yang negatif baik di internal sekolah maupun di luar lingkungan sekolah,” katanya.
Ia menggambarkan, SMP Negeri 1 Situraja yang kini menyandang sekolah penggerak memiliki raport yang baik. Contoh, untuk raport literasi, SMPN 1 Situraja ada di level 97. Tapi Iis mengakui, raport untuk pembentukan karakter masih ada di level 53.
“Makanya pembentukan karakter ini menjadi prioritas kami,” ucapnya.
Pengawas dan Pembina pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang Yusep Hadianto, pada kegiatan workshop tersebut menyampaikan, di tengah dunia pendidikan yang saat ini ternodai oleh maraknya perundungan, perlu ditanamkan pendidikan untuk pembentukan karakter siswa.
Pembentukan karakter, bisa dilakukan oleh pihak sekolah dengan membuat siswa bisa nyaman dan bahagia di sekolah. Selain itu, bagaimana guru bisa jadi tauladan bagi siswa.
“Mereka butuh kebersamaan antara guru dan siswa. Evaluasi juga sejauh mana guru bisa dekat dengan siswa. Tanamkan pada jiwa guru, bahwa rekreasi terindah adalah mengajar,” ujarnya.
Sementara itu, pemateri lainnya, Dr Sandi Budi Iriawan menyebutkan, teori kurikulum merdeka berisikan semangat perubahan ke lebih baik. Artinya, sekolah adalah tempat mendidik anak gara siswa menjadi baik dalam berbagai hal terutama karakter.
“Perbuatan baik guru akan berguna buat guru itu sendiri. Diharapkan pengajar menjadi guru yang profesional. Apalagi SMPN 1 Situraja adalah sekolah penggerak, harus jadi contoh untuk sekolah lain,” katanya.
Ia juga menyampaikan, idealnya sekolah harus menjadi tempat bahagia bersama, artinya,anak bahagia, guru juga bahagia sebagaimana falsafah Tut Wuri Handayani.
“Gurunya berkarakter anaknya juga pasti berkarakter,” imbuhnya. (gun)





