Rumah Een Sukaesih Bakal Disulap Menjadi Museum Pendidikan

oleh
Pj Bupati Sumedang Herman Suryatman saat berkunjung ke kediaman almarhumah Een Sukaesih (Bu Een) di Cimalaka yang akan dijadikan Museum.

RADARSUMEDANG.id, CIMALAKA – Rumah seorang pegiat pendidikan asal Cimalaka, almarhumah Een Sukaesih dipastikan akan dijadikan sebuah museum pendidikan.

Itu dikatakan Pj Bupati Sumedang Herman Suryatman saat berkunjung ke kediaman Een Sukaesih Dusun Batukarut, Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, belum lama ini.

Pada saat itu Herman berkunjung bersama Direktur Penyusunan Rekomendasi Kebijakan dan Regulasi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Dian Muhammad Johan Johor Mulyadi.

Yang mana saat ini, rumah tersebut dinamakan Rumah Pintar Al-Barokah yang dikelola Yayasan Al-Barokah Een Sukaesih.

Herman pun menyampaikan kilas balik saat dirinya menjadi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang semasa Ibu Een Sukaesih hanya terbaring di tempat tidurnya karena sakit. Namun tetap bisa mengajar kepada anak-anak setiap waktu. 

“Jadi waktu saya menjabat Kadis Pendidikan, dengan kondisi terbatas dan bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS), dengan semangat luar biasa Bu Een mampu mengedukasi anak-anak. Alhamdulilah anak-anak yang dididik Bu Een sudah memasuki jenjang kuliah. Bahkan saya ketemu dengan Muhfid salah satu anak asuh Bu Een yang kuliah di Turki dan kembali ke Sumedang menjadi ketua Karang Taruna disini,” kata Herman.

Herman menyebutkan, dari Rumah Pintar Al-Barokah ia mengaku mengambil pengalaman pembelajar yang luar biasa, mengenai bagaimana pendidikan itu efektif apabila berbasis kasih sayang. 

Karenanya, dengan bantuan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Dr. Dian Sukmara, pihaknya ingin merekonstruksi kembali bagaimana efektifnya pendidikan berbasis kasih sayang yang diajarkan Een Sukaesih hingga menyentuh hati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat itu. 

“Insya Allah nanti setelah di edukasi guru-guru di Sumedang mengenai pendidikan berbasis kasih sayang, bisa berkunjung ke Rumah Pintar Bu Een. Kami akan jadikan museum sederhana ‘Bu Een Sukaesih Pendidikan Berbasis Kasih Sayang’. Karena Bu Een memulai dari ruangan yang kecil ini,” ujarnya.

Herman menggambarkan, situasi Rumah Pintar Bu Een yang ruangan untuk mengajarnya kecil tetapi ia mempunyai semangat besar. 

Dirinya juga ingat saat-saat terakhir almarhumah Bu Een Sukaesih meninggal dunia Desember 2014. 

Semasa hidupnya dengan keterbatasan tubuhnya dan yang bergerak hanya kepala saja tapi bisa memberikan hal yang paling bermanfaat yakni mendidik dan mengajar anak-anak di rumahnya.

“Bu Een dengan keterbatasan dengan kondisi sakit terbaring ditempat tidur. Tetapi walau terbaring banyak melakukan banyak hal mencerdaskan anak-anak sehingga anak-anak literat,” sebut Herman.

“Pembelajaran yang bisa diambil, dengan segala keterbatasan tetapi beliau punya kasih sayang bisa mendidik anak-anak. Apalagi kita yang dalam kondisi lebih baik ‘asa kacida’ kalau tidak bisa mengikuti jejak Bu Een Sukaesih,” tambahnya.

Herman Berharap, di Sumedang akan lahir Bu Een yang lainnya di medan pengabdian yang berbeda bisa pendidikan maupun non pendidikan. 

“Jadi di ruang terbatas di kamar kecil seperti ini anak-anak berkumpul riang gembira belajar tidak mengenal waktu. Saya saksi hidupnya yang kala itu menjadi Kepala Dinas Pendidikan menyaksikan langsung almarhumah mengajar,” katanya. (jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.