110 Peserta Ikuti Gladi Penanggulangan Bencana BPBD

oleh
Sejumlah petugas BPBD saat melakukan gladi penanggulangan bencana dihadapan mobil dapur umum milik BPBD Sumedang di Markas Kodim 0610/Sumedang, Selasa (31/10)

RADARSUMEDANG.id, KOTA – Dalam rangka mengurangi risiko bencana di musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang menggelar Gladi Posko dan Lapangan di Markas Kodim 0610/Sumedang, Selasa (31/10) kemarin.

Kegiatan terselenggara atas kerjasama antara Pemda dengan Kodim 0610/Sumedang dan Polres Sumedang tersebut dilaksanakan untuk Bulan Pengurangan Risiko Bencana serta pencegahan dan kesiapsiagaan bencana di wilayah Kabupaten Sumedang.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Atang Sutarno menyampaikan, kegiatan ini diikuti 110 orang peserta yang terdiri dari unsur BPBD, Damkar, PSC 119, Basarnas, Orari, Rapi dan para Relawan Tanggap Bencana.

“Kami ingin menyatukan visi misi, membangun sinergitas serta sinkronisasi berkaitan dengan pelaksanaan tugas penanggulangan bencana. Gladi dilakukan untuk menghadapi banjir dan longsor, dengan melakukan praktek teknis mengenai kejadian lapangan di Citengah dan gladi water rescue di Jatigede,” kata Atang.

Sementara itu, Pj Bupati Sumedang Herman Suryatman menyebutkan, Sumedang merupakan salah satu kabupaten rawan bencana terutama memasuki penghujan yang berpotensi bencana banjir dan tanah longsor.

Kata Herman, langkah paling baik dalam mitigasi bencana dapat diikhtiarkan melalui langkah promotif dan preventif banjir dan langsor. Salah satunya penghijauan, desa tangguh bencana serta dengan memanfaatkan nilai nilai budaya kearifan lokal.

“Nanti di design penghijaun di kawasan rawan longsor dan banjir antara lain di kawasan Jatigede. Seperti Cadas Pangeran melibatkan semua komponen. Jadi awal musim penghujan dimulai dengan penghijauan,” ucap Herman.

Ia berharap, melalui pelatihan ini para peserta punya kesadaran untuk mencegah bencana melalui upaya promotif preventif sesuai SOP yang jelas sehingga tidak terjadi tumpang tindih pelaksanaan tugas.

“Untuk penanganan bencana ada SOP-nya, jangan sampai menanggulangi bencana malah menyulut bencana susulan. Harus tahu SOP dan harus di-gladi makanya dikenal gladi posko dan lapangan sebagai sinkronisasi sesuai tupoksinya,” tuturnya.

Herman juga memaparkan berdasarkan data dari BMKG, musim penghujan tahun 2023 diperkirakan  pada akhir bulan Oktober hingga pertengahan bulan November.

Musim hujan berpotensi memicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan banjir.

Karenanya agar masyarakat mulai melakukan upaya preventif dalam menghadapi kedua potensi bencana tersebut salah satunya yaitu dengan memanfaatkan nilai nilai kearifan lokal.

“Nilai nilai budaya Sunda bisa meningkatkan kesadaran warga dalam menjaga lingkungan. Contoh leuweung kaian, gawir awian, legok balongan, lebak sawahan, darat kebonan, itu budaya Sunda,” papar Herman.

Dikatakan Herman, langkah antisipasi melalui nilai budaya tersebut perlu disosialisasikan menjadi sabiwir hiji, dicatat, diketahui untuk kemudian bewara-kan kepada warga untuk menggugah kesadaran terhadap lingkungan. 

“Karena bencana alam sering terjadi karena abai dalam menjaga lingkungan. Alam sekitar tidak terawat dengan baik, alih fungsi hutan pegunungan, dan budaya membuang sampah sembarangan,” sebut Herman.

Menurutnya, antisipasi bencana melalui pendekatan budaya jauh lebih efektif, mudah dipahami dan murah meriah dalam menggerakkan masyarakat melalui desa tangguh bencana sebagai motor penggeraknya.

“Sebetulnya masyarakat sudah paham, tinggal digugah kembali. Kalau ini sabiwir hiji dan dilakukan dengan baik, bencana alam bisa kita minimalisir. Itu semurah murahnya biaya,” katanya. (jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.