RADARSUMEDANG.id, KOTA – Warga Lingkungan Babakan Hurip, RT 02 RW 03, Kelurahan Kota Kaler Kecamatan Sumedang Utara mengungkapkan bahwa gempa bumi yang terjadi di wilayah Kabupaten Sumedang merupakan gempa besar kedua dalam puluhan tahun terakhir ini.
Itu diungkapkan salah seorang warga Babakan Hurip, Acim saat dirinya memperbaiki genteng rumahnya yang rusak akibat getaran gempa pada malam pergantian tahun baru 2024.
Acim yang kini sudah berusia 78 tahun ingat betul karena sempat mengalami hal yang sama saat masih kecil, tepatnya saat usia sekitar 8 atau 9 tahun.
“Tahunnya saya lupa sekitar tahun 1955 atau 1956. Terjadi juga gempa yang besar menerjang areal sekitar Pacuan Kuda yang masih satu hamparan dengan Babakan Hurip,” ungkap Acim kepada Radar Sumedang, Senin (1/1/2024).
Bahkan getaran gempa yang dirasakan saat dirinya masih duduk di bangku SD itu lebih besar dari yang sekarang, hingga membuat warga ketakutan, dan lingkungan Babakan hurip saat itu sebagian besar masih berupa kebun dan belum banyak berdiri rumah.
“Jadi seingat saya gempa seperti ini sudah saya alami dua kali seumur hidup. Ya bagi yang muda-muda mungkin tidak merasakan gempa seperti tahun 50-an lalu di Sumedang juga,” ujarnya.
Sementara berdasarkan pengakuan Acim saat kejadian, dirinya dan keluarga sedang asyik menonton TV di ruang tengah. Namun begitu terasa guncangan langsung semua berlari berhamburan keluar.
“Begitu terasa getaran saya langsung bawa anak dan istri saya keluar rumah. Sampai-sampai tengah malam kami masih bertahan di luar rumah karena khawatir gempa susulan,” ucapnya.
Senada warga lainnya, Septian menerangkan Lingkungan Babakan Hurip menjadi salah satu daerah yang terkena dampak gempa Sumedang berkekuatan magnitudo 4,8.
Ia menyampaikan kejadian gempa pada malam pergantian tahun yang ke-3 kalinya betul-betul menakutkan.
“Saat itu saya dan keluarga sedang di ruang tengah tiba tiba ada goncangan yang hebat, hingga kami sekeluarga ke luar rumah,” kata Septian.
Bahkan disebutkan Septian, getaran yang dirasakan sedikit berbeda karena ketika sudah sampai di luar dan berlari, jalan yang diinjak terasa bergelombang.
“Pas saya lihat jalan seperti ombak turun naik, hingga saya pun benar-benar merasakan rasa takut yang mendalam,” beber Septian.
Ia menambahkan, setelah situasi dan kondisi dirasa aman, ia memutuskan kembali ke rumah namun kondisi di dalam sudah rusak
“Saat ke rumah banyak bagian tembok yang retak. Bahkan bagian dapur ada tembok yang renggang sehingga untuk keselamatan takut ada lagi gempa susulan akhirnya kami dan keluarga memutuskan untuk tidur di tenda,” jelas Septian. (jim)







