RADARSUMEDANG.id, UJUNGJAYA – Ditengah kondisi harga pupuk yang mahal, sejumlah mahasiswa KKN Tematik gotong royong membangun desa berhasil menciptakan pupuk organik yang terbuat dari limbah
kotoran hewan.
Mereka yang terdiri dari 10 orang dari 2 perguruan tinggi itu ditempatkan di Desa Ujungjaya, Kecamatan Ujungjaya selama 4 bulan lamanya sejak bulan Oktober 2023, telah selesai melakukan KKN tematik LLDIKTI wilayah IV.
Hasilnya dengan kondisi yang ada di Desa Ujungjaya, mahasiswa menyadari bahwa sektor pertanian dan ketahanan pangan saat ini terkendala oleh harga pupuk yang mahal sehingga membebani para petani di sekitar Ujungjaya.
“Kami justru melihat di wilayah Ujungjaya ini terdapat banyak peternakan ayam. Kami menyaksikan kondisi pupuk langka dan petani mengeluhkan sulitnya birokrasi dalam pembuatan kartu tani,” kata salah seorang Perwakilan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Ekonomi Program Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Whisnu Alam saat ditemui Radar Sumedang di PPS, Rabu (24/1/2024).
Lanjut Whisnu, sejauh ini limbah kotoran hewan ternak mudah didapat. Terlebih di Ujungjaya banyak peternak ayam sehingga timbul inisiatif untuk mengolah limbah ternak menjadi sesuatu yang bermanfaat yaitu pupuk organik.
“Setelah mengolah limbah kotoran, kami mencoba mengemas pupuk organik baik yang padat 3 kilogram maupun cair versi botolan satu liter. Jadi baik yang padat maupun cair tentunya mempunyai nilai ekonomis untuk kedepannya,” ujarnya.
Bahkan Whisnu mengungkapkan, sebelum menghasilkan pupuk organik dirinya bersama rekan satu kelompok KKN dari Universitas Islam Bandung (Unisba) ini telah melakukan riset mendalam di wilayah KKN di Ujungjaya, Sumedang. Mulai dari wawancara ke petani langsung hingga peternak ayam di sejumlah titik lokasi di Kecamatan Ujungjaya.
“Saat itu, kotoran dari hewan ternak itu menjadi limbah yang cukup banyak. Bahkan belum ada yang melakukan proses pengolahan, mau diapakan limbah itu. Kebetulan berdasarkan hasil wawancara dengan petani yang mau memasuki musim tanam, terkendala dengan langkanya pupuk,” ungkap Whisnu.
Senada, rekan sekampus Whisnu, Vincentius menjelaskan proses pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik. Yang mana hasil jerih payah mahasiswa dari dua perguruan tinggi di Bandung ini sukses.
“Sudah dipakai oleh para petani seperti petani padi, jagung, dan palawija di Ujungjaya sudah mulai menggunakannya. Kemudian kami telah melakukan uji coba dengan menanam jagung di lahan milik kantor Kecamatan Ujungjaya. Beberapa waktu lalu sudah selesai di panen untuk jagung, dan hasilnya tumbuh dengan baik, jagungnya juga manis,” jelas Vincentius. (jim)





