RADARSUMEDANG.id — Di antara riuh aktivitas MPLS di Sekolah Rakyat Terintegrasi Sumedang pekan kemarin, di Desa Sakurjaya, Kecamatan Ujungjaya. Rupanya ada seorang anak perempuan berusia 9 tahun yang kini mulai kembali menata mimpinya. Namanya Aisyah.
Senyumnya tampak sama seperti anak-anak seusianya. Ia berlari, belajar, bercanda dengan teman-teman baru, dan mengikuti kegiatan sekolah dengan penuh semangat. Namun, di balik senyum kecil itu tersimpan kisah yang tidak mudah dilalui oleh anak seusianya.
Aisyah tumbuh tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Ayah yang selama ini menjadi tempat bergantung telah meninggal dunia. Sementara sang ibu sudah lama tidak lagi berada di sisinya dengan alasan yang kurang jelas. Sejak itu, kehidupan Aisyah berubah.
Di tengah keterbatasan, bibinya, Ipah, memutuskan menjadi orang tua asuh bagi Aisyah. Meski hidup dalam kondisi sederhana, Ipah berusaha merawat keponakannya dengan penuh kasih sayang.
Ia bahkan rela datang dari Jakarta demi memastikan Aisyah memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik.
Bagi Ipah, keputusan menitipkan Aisyah di Sekolah Rakyat bukanlah perkara mudah. Namun, ia yakin tempat itu akan menjadi awal baru bagi masa depan keponakannya.
Ipah pun menyampaikan ucapan terima kasih kasih kepada Presiden, Gubernur, dan Bupati Dony karena adanya Sekolah Rakyat ini sangat membantu meringankan beban yang harus dilewati oleh Aisyah.
“Sekarang saya tenang karena keponakan saya bisa sekolah lebih tinggi lagi, saya titipkan Aisyah di sini. Mudah-mudahan dia betah, menjadi anak yang salehah, sekolah setinggi-tingginya, dan bisa meraih cita-citanya. Dulu dia merasa tidak beruntung karena tidak punya orang tua, sekarang saya yakin cita-citanya bisa tercapai,” tutur Ipah dengan mata yang berkaca-kaca.
Tampak dari raut wajah dan kalimat sederhana, seorang bibi yang selama ini memikul tanggung jawab sebagai orang tua, akhirnya bisa sedikit mengurangi rasa cemas tentang masa depan anak yang diasuhnya.
Kini, Aisyah tak lagi harus memikirkan bagaimana biaya sekolah, tempat tinggal, makan, maupun kebutuhan sehari-hari.
Sementara salah seorang pendamping dari Dinas Sosial Kabupaten Sumedang, Nenden mengungkapkan bahwa menemukan Aisyah merupakan sebuah keajaiban. Yang mana sekolah rakyat menjadi tempat yang sangat cocok untuk menerima Aisyah.
Menurutnya, di Sekolah Rakyat, seluruh kebutuhan pendidikan dan pembinaan telah disiapkan sehingga anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat belajar dengan tenang dan fokus mengejar cita-cita.
“Bagi anak-anak lain, pergi ke sekolah mungkin menjadi rutinitas biasa. Namun bagi Aisyah, mengenakan seragam sekolah adalah simbol bahwa harapan itu masih ada. Bahwa kehilangan orang tua bukanlah akhir dari perjalanan hidupnya,” ujar Nenden.
Dengan demikian sambung Nenden, hal inilah makna sesungguhnya dari hadirnya Sekolah Rakyat. Bukan hanya membangun ruang kelas, melainkan menghidupkan kembali harapan anak-anak yang nyaris kehilangan kesempatan. Terlebih kata dia, setiap anak, siapa pun dia dan dari keluarga apa pun ia berasal, berhak memiliki masa depan yang lebih baik.
“Sebelumnya Asiyah baru masuk SD kelas 1 di Desa Tamansari, Cibugel. Karena Aisyah juga ternyata masuk desil 1, maka kami sebagai wali asuh yang ditugaskan langsung memproses kepindahan Asiyah ke SR terintegrasi. Intinya dari kisah Asiyah, setiap orang memiliki mimpi yang layak untuk diperjuangkan dan balik setiap senyumnya tersimpan harapan besar untuk masa depan,” jelas Nenden. (jim)





