RADARSUMEDANG.id, KOTA – Permainan tradisional tak sekadar menjadi hiburan masa lalu. Di tangan tim dosen dan mahasiswa Program Studi Keperawatan, permainan seperti dakon, bekel, dan engklek justru dimanfaatkan sebagai media terapi bagi warga lanjut usia (lansia) di Desa Cijeungjing, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang.
Melalui program pengabdian masyarakat bertajuk GENTAR (Gerakan Lansia Bugar), tim menerapkan metode Psiko-Edu-Physical Therapy. Hasil evaluasi menunjukkan pendekatan tersebut memberikan dampak positif terhadap fungsi kognitif, kebugaran, kesehatan mental, serta kemandirian lansia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Program tersebut digagas tim yang diketuai Diding Kelana Setiadi bersama dua anggota dosen, Ida Nurhidayah dan Amanda Puspanditaning Sejati. Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan empat mahasiswa keperawatan sebagai asisten pelaksana dan evaluator.
Sementara itu, Pemerintah Desa Cijeungjing menjadi mitra kegiatan yang diwakili Atit Casmiati. Pihak desa membantu menyediakan lokasi sekaligus memobilisasi peserta melalui Posyandu Lansia setempat.
Ketua tim GENTAR Diding Kelana Setiadi mengatakan, permainan tradisional dirancang sedemikian rupa agar lansia mendapatkan stimulasi fisik sekaligus kognitif dalam satu kegiatan.
“Saat bermain, lansia sebenarnya sedang menjalani terapi ganda tanpa merasa terbebani. Mereka melatih otot dan keseimbangan tubuh, sekaligus melatih otak untuk berhitung dan menyusun strategi,” ujarnya.
Menurut dia, unsur permainan membuat peserta lebih antusias mengikuti kegiatan. Terlebih, jenis permainan yang digunakan memiliki kedekatan emosional dengan pengalaman masa kecil para lansia.
Dari hasil evaluasi, perubahan terlihat cukup signifikan. Pada aspek kemandirian aktivitas harian, proporsi lansia dengan kategori mandiri atau ketergantungan ringan berdasarkan Indeks Barthel meningkat dari 33 persen menjadi 77 persen setelah program berlangsung.
Perubahan juga terlihat dari aspek kebugaran fisik. Rata-rata waktu tempuh uji keseimbangan Timed Up and Go (TUG) menurun dari 16,2 detik menjadi 10,7 detik. Sementara proporsi lansia yang masuk kategori berisiko jatuh tinggi turun dari 30 persen menjadi 3 persen.
Pada aspek kesehatan mental, jumlah lansia dengan skor Skala Depresi Geriatri (GDS) dalam kategori normal juga meningkat. Dari semula 30 persen menjadi 70 persen setelah mengikuti rangkaian kegiatan.

Wakil Direktur Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan dan Penjaminan Mutu Dr. Anggi Setia Lengkana, M.Pd. mengatakan, kegiatan pengabdian masyarakat merupakan bagian penting dari kontribusi perguruan tinggi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam menjalankan pendidikan dan penelitian, tetapi juga perlu memastikan ilmu pengetahuan yang dikembangkan dapat memberikan manfaat secara langsung bagi masyarakat.
“Program seperti GENTAR menjadi contoh bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki sivitas akademika dapat diimplementasikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Pendekatan yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan warga tentu akan lebih mudah diterima,” ujarnya.
Anggi menambahkan, inovasi dalam pelayanan dan pendampingan lansia perlu terus dikembangkan. Pemanfaatan permainan tradisional sebagai media stimulasi menjadi salah satu bentuk pendekatan yang dapat memperkuat keterlibatan peserta sekaligus mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal.
“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada pelaksanaan program saja. Yang lebih penting adalah adanya keberlanjutan, pendampingan, serta upaya agar masyarakat dan mitra lokal mampu meneruskan praktik-praktik positif yang sudah dibangun,” katanya.
Dia juga menilai keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian menjadi bagian penting dari proses pembelajaran di luar kampus. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat sekaligus mengasah kemampuan profesional dan sosial.
Anggota tim GENTAR Amanda Puspanditaning Sejati mengatakan, perubahan kondisi peserta juga terlihat dalam interaksi sehari-hari selama proses pendampingan.
“Yang paling berkesan bagi kami adalah melihat lansia yang di awal program datang dibantu memapah keluarganya, lambat laun mulai bisa berjalan sendiri menuju tempat kegiatan. Perubahan kecil seperti ini yang menjadi indikator paling kuat bahwa program ini benar-benar sampai ke kebutuhan mereka,” kata Amanda.
Tim menilai keberhasilan program tidak lepas dari penggunaan unsur kearifan lokal. Permainan yang pernah akrab dengan kehidupan peserta ketika masih muda membuat lansia lebih mudah mengikuti kegiatan.
Pendekatan tersebut juga dinilai mampu mengurangi kesan bahwa terapi merupakan aktivitas yang kaku dan monoton. Lansia justru mengikuti kegiatan dalam suasana yang lebih santai dan interaktif.
Dari sisi mitra, Atit Casmiati menyambut baik keberlanjutan program tersebut. Menurutnya, GENTAR memberikan alternatif kegiatan bagi lansia yang selama ini lebih banyak mengikuti pemeriksaan kesehatan rutin di Posyandu.
“Selama ini kegiatan Posyandu Lansia di desa kami lebih banyak sebatas pemeriksaan kesehatan rutin. Dengan adanya GENTAR, para lansia jadi punya kegiatan yang mereka tunggu-tunggu setiap minggunya, bukan sekadar diperiksa lalu pulang,” ujarnya.
Pihak desa, lanjut Atit, berkomitmen mendukung keberadaan “Pojok GENTAR” setelah masa pendampingan tim pengusul berakhir. Kader Posyandu diharapkan dapat melanjutkan kegiatan secara mandiri.
Ke depan, tim GENTAR berencana memperluas implementasi program ke sejumlah Posyandu Lansia dan panti wreda lain di Kabupaten Sumedang. Tim juga menyiapkan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas Modul GENTAR agar dapat direplikasi di daerah lain.
Program tersebut sekaligus diharapkan dapat memperkuat upaya peningkatan kualitas hidup lansia melalui pendekatan yang promotif, preventif, edukatif, serta berbasis pemberdayaan masyarakat. (rik)





