RADARSUMEDANG.id, KOTA – Cuaca buruk yang melanda Sumedang beberapa pekan ini membuat tanaman cabai di kaki Gunung Kareumbi Desa Margalaksana Kecamatan Sumedang Selatan banyak yang rusak hingga membusuk. Akibatnya, para petani di sana terancam mengalami kerugian.
Salah seorang petani cabai, Didin Samsudin (62) mengatakan, para petani saat ini dibuat pusing, lantaran tanaman cabainya banyak yang mati. Meski ukuran cabai sudah besar, namun banyak diantaranya yang jatuh berguguran.
“Sekarang hasilnya tidak memuaskan, karena banyak cabai yang berjatuhan. Jadi untuk panen sekarang sepertinya petani mengalami kerugian,” kata Didin, Selasa (27/2).
Didin menggambarkan, jika kondisi cuaca normal, dari lahan seluas 250 bata biasanya mampu menghasilkan paling sedikit 1 ton cabai. Namun saat hasil panen diprediksi bakal mengalami penurunan hingga 75 persen.
“Hilangnya bisa sampai 75 persen, paling hanya 250 kilogram saja yang terjual. Jadi jangankan balik modal, petani sama sekali rugi,” ujarnya.
Petani lainnya, Yana menuturkan, guna menghindari kerugian yang lebih besar, cabai yang dijual ke tengkulak harganya dinaikan. Oleh karena itu sangat wajar saat ini harga cabai di pasaran tengah melonjak.
“Di bandar dijualnya bervariasi, kalau normal biasanya Rp 15.000 ada yang Rp 25.000. Tapi kalau barangnya susah bisa sampai Rp 45.000 per kilogram. Jadi wajar kalau sekarang harganya mahal di pasaran, soalnya dari para petaninya juga rugi sama sekali,” ucapnya.
Di kawasan kaki Gunung Kareumbi tersebut, petani kebanyakan menanam jenis cabai merah keriting, cabai domba, cabai hijau, dan cabai rawit. Atas kondisi tersebut, para petani berharap pemerintah dapat membantu, diantaranya dengan cara menurunkan harga pupuk.
“Utamanya perhatian dari pemerintah, soalnya pupuk juga mahal, jadi nggak seimbang dengan pendapatan. Kami ingin pupuknya murah dengan kualitas yang bagus,” imbuhnya. (gun)





