RADARSUMEDANG.id, CIMALAKA – Produk kopi asli Sumedang semakin bermunculan seiring dengan kebutuhan konsumsi dan permintaan pasar.
Selain Rancakalong sebagai kawasan penghasil kopi terbaik di Desa Nagarawangi (Kopi Boehoen), Cibugel, Cisoka (Sumedang Selatan), Manglayang (Sukasari). Wilayah Cimalaka rupanya tak ingin ketinggalan dengan tren kopi asli Sumedang yang kini semakin digemari.
Di Cimalaka tepatnya di Desa Citimun, ada salah seorang petani kopi yang sedang mengembangkan produk kopi. Menariknya kopi tersebut dipasarkan melalui kemasan saset seperti kopi bubuk yang biasa dikonsumsi di warung-warung kopi.
Menurut Founder Kopi 97 Citimun, Iman Herdiawan, kopi yang dijual dinamakan kopi 97. Yang mana penamaan 97 diambil dari alumni salah satu SMA di Tanjungsari.
“Kopi 97 ini mulanya diambil dari angkatan SMA Tanjungsari tahun 1997. Yang mana kebun kopinya ada di HPD (hutan pangkuan desa) Gunung Tampomas oleh sendiri bersama LMDH (lembaga masyarakat hutan desa) Kebon Kembang,” kata Iman kepada Radar Sumedang, Sabtu (6/7/2024).
Adapun kata Iman, produk yang dijual oleh Kopi 97 adalah green bean (biji hijau), roast bean (yang sudah melalui proses pemanggangan) dan saset-an.
“Untuk yang jenis robusta Rp 15 ribu, jenis Arabika Rp 30-40 ribu dan saset-an Rp 10 ribu 3 saset. Alhamdulillah semakin digemari terutama oleh kalangan anak muda yang sering nongkrong di kedai kami,” ujarnya.
Ditempat yang sama, sekretaris KKN Tematik PTGRMD LLDIKTI wilayah IV Desa Citimun, Yeni Septiana menyampaikan telah memilih kopi 97 sebagai objek untuk one product one village (OPOV) atau satu desa satu produk.
Dikatakan Yeni saat melakukan KKN, kelompoknya yang beranggotakan 10 orang melihat potensi yang bisa dikembangkan dari produk kopi asli Sumedang. Terlebih disadari Yeni, kebutuhan orang untuk meminum kopi yang terpisah dengan gula saat ini semakin digemari.
“Kami sudah melihat bagaimana awal mula penanaman sampai menjadi biji kopi siap konsumsi di Desa Citimun. Maka kita coba kembangkan segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan oleh Kang Iman,” ucap Yeni.
Adapun beberapa upaya yang sudah dilakukan yaitu merapikan packaging (kemasan) juga pemasaran via toko online (e-commerce).
“Sebelumnya hanya ada kemasan bubuk (hasil gilingan) 100 gram, 200 gram dan 1 kilogram. Maka kemudian kita kembangkan yang saset-an dengan kemasan yang menarik dan kami buatkan di Shopee supaya dapat dibeli dari mana pun. Kemudian kita juga cantumkan nomor kontak yang bisa dihubungi yaitu Kang Iman sendiri sebagai founder,” katanya. (jim)







