RADARSUMEDANG.id, KOTA – Keanekaragaman hayati yang unik, langka, diminati dan berdampak pada ilmu pengetahuan di kabupaten Sumedang perlahan mulai terungkap.
Pengungkapan informasi mengenai keanekaragaman hayati yang mungkin saja belum banyak diketahui oleh masyarakat ini semakin memperkuat bagaimana satwa-satwa liar mendiami kawasan di Sumedang.
Disisi lain, Kabupaten Sumedang tengah mengusulkan beberapa kawasan untuk dijadikan Geopark dan rencananya akan segera dilakukan penilaian oleh tim asesor juga pihak akademisi.
Oleh sebab itu, Pemda melalui Bidang Kebudayaan pada Disparbudpora Kabupaten Sumedang terus berkoordinasi dengan berbagai pihak supaya sebagian wilayah Sumedang dapat menjadi kawasan Geopark yang tentunya selain berdampak pada sektor pariwisata dan perputaran ekonomi juga berdampak pada ilmu pengetahuan.
“Sebetulnya di Sumedang itu kita punya hewan langka yaitu burung ‘merak’, meskipun statusnya itu hampir punah. Oleh sebab itu masyarakat harus menyadari betapa pentingnya konservasi binatang langka maupun tumbuhan langka yang ada di Kabupaten Sumedang saat ini,” kata Kepala Bidang Kebudayaan pada Disparbudpora Kabupaten Sumedang, Moch Budi Akbar kepada Radar Sumedang, Sabtu (26/10/2024).
Selain burung merak, Sumedang juga mempunyai satwa khas yang sampai saat ini tergolong masih banyak populasinya yaitu munding (kerbau) Marongge.
Yang mana kata Budi, Di desa Marongge Kecamatan Tomo. Populasi kerbau yang cukup banyak telah menyatu dengan kondisi alam, sosial, dan budaya setempat. Hal ini menjadikan kerbau di desa ini dinamakan kerbau marongge.
“Munding di Desa Marongge itu, habitatnya di sungai jadi sebagian waktunya suka mandi di sungai. Menariknya, munding Marongge itu posturnya kecil tapi fisiknya kuat dan ini masih ada sampai sekarang di marongge,” ungkap Budi Akbar.
Oleh karenanya Sumedang yang saat ini mempunyai 1300 warisan benda maupun tak benda. Diantara 1300 ini, diyakini Budi Akbar ada fenomena langka unik diminati dan berdampak pada ilmu pengetahuan.
Yang mana ke depan rencananya akan ada tim dari UNPAD turun menemukan yang baru. Terlebih tidak menutup kemungkinan ada beberapa objek yang dicurigai dan belum tersentuh oleh manusia di hutan belantara di wilayah Kabupaten Sumedang.
“Contoh di kita ada mata air yang mengeluarkan air asin atau disebut Ciuyah di Cisarua atau orang bilang Ciseseupan. Karena entah kenapa binatang rata rata kalau minum pasti ke mata air itu,” ujarnya
Budi Akbar juga menambahkan, satu lagi yang menarik yang mungkin belum terjamah oleh manusia. Yang mana ada satwa liar yang masih belum diketahui jenis dan rupanya, karena keterbatasan akses ke hutan.
“Saya dapat informasi awal di para sepuh di Jembarwangi di salah satu kawasan hutan, bahwa ada sejenis kucing yang suaranya seperti kambing. Ini menarik mudah-mudahan dari UNPAD bisa pasang kamera untuk membuktikan kebenaran maupun fenomena langka itu,” sebut Budi Akbar.
Dengan demikian, temuan keanekaragaman hayati berupa satwa-satwa langka ini semakin membuka mata bahwa Sumedang selain kaya akan sumber daya alam dan peninggalan kepurbakalaan juga kaya akan keanekaragaman hayati.
“Terakhir saya kedatangan dari Guang Xi Cina hanya untuk melihat warisan budaya tak benda di Sumedang, ini orang luar negeri langsung datang ke Sumedang. Kemudian terakhir dari Jerman, jauh-jauh ingin melihat tinggalan sejarah kepurbakalaan juga kebudayaan lokal di Sumedang sehingga kurang apalagi coba kita. Hanya saja dunia usaha belum melihat potensi kekayaan budaya Sumedang,” katanya. (jim)







