RADARSUMEDANG.id, TANJUNGSARI – Para pedagang pakaian di Pasar Tanjungsari mengeluhkan sepinya pembeli yang semakin terasa sejak pandemi COVID-19 melanda pada tahun 2020. Hingga saat ini, kondisi pasar belum menunjukkan tanda-tanda kembali ramai.
Nasir, Kepala UPT Pasar Tanjungsari, mengungkapkan bahwa perubahan pola belanja masyarakat menjadi faktor utama menurunnya jumlah pengunjung.
“Belanja online sekarang lebih marak, harga pun relatif murah. Ini membuat masyarakat lebih memilih belanja dari rumah ketimbang datang langsung ke pasar,” ujarnya, Rabu (4/12).
Ia juga menyayangkan sikap sebagian pedagang yang enggan beradaptasi dengan tren belanja digital.
“Saya sudah menyarankan para pedagang untuk mencoba berdagang online, seperti live di TikTok. Saat ini, platform seperti itu sangat diminati. Daripada menunggu kios sambil melamun, lebih baik memanfaatkan media sosial untuk menjajakan dagangan. Namun, banyak pedagang di sini menolak dengan alasan ribet atau tidak mengerti caranya,” tambahnya.
Kondisi ini diperparah dengan semakin sepinya aktivitas di pasar. Jika dulu pasar ramai hingga sore hari, kini pukul 10 pagi saja sudah terlihat lengang.
“Dari total 670 kios yang ada, sekitar 150 di antaranya terpaksa tutup karena minimnya pengunjung, terutama kios-kios yang terletak di bagian belakang pasar,” tambahnya.
Sementara itu, salah seorang pedagang pakaian, Nandang, mengaku kondisi pasar saat ini membuatnya semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Dulu sebelum pandemi, pembeli masih ramai, tapi sekarang jauh berkurang. Biasanya kios saya buka sampai sore, tapi sekarang pukul 10 pagi sudah sepi,” ungkap Nandang.
Para pedagang berharap adanya upaya dari pihak pasar maupun pemerintah untuk membantu meningkatkan kembali daya tarik Pasar Tanjungsari.
Selain itu, edukasi mengenai pemanfaatan platform digital untuk berdagang diharapkan bisa menjadi solusi agar para pedagang mampu bersaing di era modern. (tha)





