RADARSUMEDANG.id, BANDUNG –Bencana alam seringkali meninggalkan trauma bagi korban, sehingga dukungan dari lingkungan sangat dibutuhkan untuk membantu meringankan beban mental dan fisik penyintas. Gempa bumi pada tanggal 18 September 2024 dengan kekuatan 5.0 magnitudo episenter terletak pada koordinat 7,23° LS dan 107,65° BT melanda wilayah Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa bumi ini dangkal, terjadi akibat aktivitas Sesar Garsela (Garut Selatan) yang teridentifikasi sebagai penyebab utama. Walaupun demikian, posko utama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung menyampaikan dampak kerusakan muncul di delapan desa yang meliputi ratusan rumah, sejumlah fasilitas umum, seperti puskesmas, masjid, dan sekolah dengan tingkat kerusakan ringan, sedang dan berat hingga hancur. Dilaporkan pula terdapat ratusan warga juga mengalami luka ringan, sedang, dan berat.
Saat dalam masa tanggap bencana, pada 1 Oktober 2024 ITB telah menurunkan tim tanggap bencana biomedis dan psikososial yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dari berbagai disiplin keilmuan yakni dari Sekolah Ilmu & Teknologi Hayati (SITH) dalam bidang biomedis, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) beserta Psikolog ITB yang dibantu oleh psikolog dari Himpunan Psikologi (HIMPSI) Jawa Barat, dan didukung pula oleh dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (FK UNPAD) yang disuplai pula obat-obatan dari apoteker dan apotek Sekolah Farmasi (SF) ITB. Wilayah bencana yang dikunjungi oleh tim tanggap bencana berada di Desa Cibereum, Kecamatan Kertasari. Adapun Rangkaian program terpadu pemulihan traum bagi penyintas bencana gempa bumi antara lain:
- Tim SITH, Psikolog ITB: melakukan pemeriksaan kondisi neuropsikologis korban bencana untuk pendeteksian adanya gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) menggunakan kuesioner PTSD Checklist for DSM-5 (PCL-5) serta perekaman gelombang otak menggunakan alat elektroensefalogram (EEG) portable MUSE, disertai dengan pendampingan psikologis.
- FSRD ITB ITB: pelaksanaan kegiatan art-therapy untuk korban bencana kelompok usia anak-anak yang duduk di sekolah dasar.
- SF, FK UNPAD: pendataan kondisi awal (anamnesa) dan pemeriksaan medis pasien terdampak bencana yang disertai dengan pemberian obat gratis kepada korban bencana.
Selain pemeriksaan kondisi fisik, ditemukan pula kondisi mental korban yang beresiko terdampak akibat bencana alam. Gejala psikis yang paling mungkin ditunjukkan oleh korban adalah trauma pasca-bencana yang diketahui melalui pemeriksaan penyaringan awal (screening) dan ke-5 (DSM-5) terbitan American Psychiatric Association (APA), yakni PCL-5 sesuai dengan anjuran tim medis FK Unpad. Berdasarkan hasil telaah dari 20 pertanyaan pada kuesioner PCL-5, ditemukan 18 korban terindikasi atau berpotensi alami PTSD, sedangkan 21 korban lainnya tidak mengalaminya. Saat pengisian kuesioner pada responden, diikuti pula dengan perekaman gelombang otak menggunakan EEG yang dapat memberikan representasi fisiologis otak korban berdasarkan nilai gelombang alfa (kondisi pikiran rileks/santai) pasca bencana.

Analisis data korban yang diindikasikan alami PTSD menunjukkan ketidakseimbangan gelombang alfa yang dominan pada area bagian temporal (belakang otak) yang merupakan wilayah ingatan di otak. Hasil ini sesuai dengan ciri khas pasien PTSD yang cenderung menghindar dan menolak untuk mengingat kejadian bencana. Sebaliknya, korban non-PTSD menunjukkan aktivitas alfa yang merata di seluruh area, kecuali bagian temporal (belakang) otak, yang mengindikasikan keseimbangan (sinkronisasi) gelombang alfa sehingga masih mampu mengingat kejadian bencana dengan lebih baik saat menjawab kuesioner dibandingkan dengan korban PTSD. Hasil ini mencerminkan kebutuhan korban PTSD yang memerlukan bantuan psikososial lanjutan dari pihak pemerintah daerah. Sejalan dengan pemeriksaan kondisi mental korban, tim psikolog HIMPSI JABAR juga bekerja untuk meringankan beban penyintas dengan memberikan terapi psikologis, terutama bagi korban yang terindikasi PTSD.
Tim biomedis yang dibantu oleh tim dokter dari FK UNPAD juga melakukan pemeriksaan awal (anamnesa) dan pemantauan kondisi yang dibantu oleh tim SITH ITB terhadap 52 pasien yang menunjukkan berbagai gejala gangguan penyakit. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, rerata gangguan yang dirasakan oleh korban antara lain: penyakit kulit/gatal-gatal, batuk pilek/ISPA, sakit kepala/demam, darah tinggi, diabetes, diare, pencernaan/syndrome dyspepsia/gastritis, dan psikosomatis. Tim apoteker SF ITB juga menyediakan berbagai obat-obatan yang mendukung kerja dokter dengan memberikan obat-obatan yang diperlukan pasien.


Di sisi lain, tim seni dari FSRD ITB memberikan terapi berbasis seni yang bertujuan untuk membantu pemulihan kondisi mental anak-anak yang terdampak bencana di salah satu sekolah dasar (SD) di Kertasari. Tujuan lain diadakannya terapi seni sendiri adalah untuk meningkatkan regulasi emosi anak melalui pemantikan proses kreativitas, mengingat bahwa umumnya bencana alam dapat membuat anak-anak trauma dan tidak mampu mengontrol emosinya dengan baik. Terapi ini diberikan kepada sejumlah 50 siswa dengan kegiatan menghias dan menggambar, menggunakan bahan-bahan yang telah disediakan oleh tim seni FSRD ITB.


Program tanggap bencana terintegrasi multidisiplin yang telah dilakukan sebagai bentuk wujud kegiatan Pengabdian Masyarakat ITB sekiranya sangat penting untuk tetap dilakukan dan dilanjutkan apabila terdapat bencana serupa di masa depan. Tim ITB mengucapkan terimakasih kepada pendanaan yang telah diberikan oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRPM) ITB serta seluruh pihak termasuk Pemerintah Daerah Kecamatan Kertasari dan Desa Cibereum yang terlibat dalam kegiatan ini. (rik)







