Disdik Sumedang: 50 Persen Bangunan SD dan SMP dalam Kondisi Baik

oleh
RUSAK BERAT: Kepala SDN Sindang III Yati Sumiati, S.Pd memperlihatkan bagian ruang kelas yang rusak terutama di bagian plafon dan atap kelas, Rabu (30/10/2024). Rencananya Disdik pada tahun ini akan melakukan rehab di sejumlah sekolah yang mengalami kerusakan bangunan. (Erik A Kurnia/Radar Sumedang)

RADARSUMEDANG.id, KOTA — Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumedang menyatakan bahwa hingga akhir 2024, sekitar 50 persen dari total 734 bangunan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah tersebut berada dalam kondisi baik.

“Alhamdulillah, hingga tahun 2024 kemarin, kondisi baik untuk bangunan SD dan SMP di Kabupaten Sumedang mencapai 50 persen. Sedangkan sisanya masih ada yang mengalami kerusakan ringan, sedang, hingga berat,” ujar Sekretaris Disdik Kabupaten Sumedang, Dr. Eka Ganjar Kurniawan, kepada sejumlah awak media, Selasa (7/1/2025).

Eka merinci, dari 50 persen bangunan sekolah yang rusak, kurang dari 10 persen tergolong rusak berat. Sementara, sekitar 20 persen mengalami kerusakan sedang.

“Fokus kami saat ini adalah menangani sekitar 30 persen bangunan yang rusak berat dan sedang. Adapun kerusakan ringan menjadi tanggung jawab masing-masing sekolah,” jelasnya.

Eka menambahkan, perbaikan bangunan sekolah yang rusak berat dan sedang akan dilakukan secara bertahap karena usia bangunan terus memen(garuhi kondisinya. “Data kondisi bangunan sekolah itu dinamis, bisa berubah setiap tahunnya seiring waktu dan penggunaan,” katanya.

Meski demikian, Eka mengakui masih ada sekolah di Sumedang yang kekurangan bangunan, terutama di wilayah dengan jumlah siswa yang banyak, seperti Cimanggung, Jatinangor, dan Tanjungsari.

“Di daerah tersebut, ada sekolah yang bangunannya tidak sebanding dengan jumlah siswa. Untuk mengatasi itu, kami menggunakan sistem pembelajaran pagi dan siang di sekolah yang ruang kelasnya terbatas,” ujarnya.

Selain itu, ia menyebutkan bahwa keterbatasan lahan juga menjadi kendala bagi beberapa sekolah untuk menambah ruang kelas. “Misalnya, jumlah siswa banyak, tapi lahan sekolah terbatas. Kondisi seperti ini sifatnya kasuistis,” tutup Eka.(jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.