RADARSUMEDANG.id, TANJUNGSARI – Lonjakan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Sumedang telah berdampak signifikan terhadap aktivitas perdagangan ternak besar di Pasar Hewan Tanjungsari. Kepala UPTD Pasar Hewan Tanjungsari, Rani Haryono, mengungkapkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, perdagangan sapi dan ternak besar lainnya nyaris terhenti.
“Untuk ternak besar saat ini tidak ada pedagang maupun pembelinya. Yang masih ada hanya perdagangan ternak kecil seperti kambing dan domba,” kata Rani, Selasa (20/1/2025).
Meski demikian, Rani memastikan Pasar Hewan Tanjungsari tetap beroperasi sesuai jadwal reguler, yaitu setiap hari Selasa dan Sabtu, sambil menunggu arahan lebih lanjut dari pihak berwenang. “Sambil menunggu instruksi pimpinan, pasar hewan Tanjungsari masih buka, meskipun yang dijual hanya ternak kecil,” ujarnya.
Pencegahan Penyebaran PMK
Sebagai langkah antisipasi penyebaran PMK, pengelola pasar terus melakukan upaya pembersihan dan sterilisasi area pasar. Rani menjelaskan bahwa pasar secara rutin dibersihkan dan disemprot desinfektan untuk memastikan lingkungan tetap aman bagi ternak.
“Kami berupaya semaksimal mungkin menjaga kebersihan pasar, termasuk rutin menyemprotkan desinfektan, agar area pasar tetap steril,” tambahnya.
Kasus PMK yang menyerang ternak besar berkuku belah ini menjadi perhatian serius, terutama karena dampaknya yang luas. Selain merugikan peternak akibat kerugian ekonomi, wabah ini juga mengganggu sektor perdagangan hewan yang menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian masyarakat.
Pasar Hewan Tanjungsari sendiri dikenal sebagai salah satu sentra perdagangan ternak di Kabupaten Sumedang. Namun, dengan terhentinya perdagangan ternak besar, aktivitas di pasar ini mengalami penurunan drastis.(gun)







